Sabtu, 30 Juli 2016

Anak ‘Alergi’ Dengar Kata “Jangan”



“Jangan duduk di situ!”
“Jangan pegang barangnya seperti itu..”
“Aduh, jangan lari-lari dong.”
“Jangan naik-naik, nanti jatuh..”

Dan masih banyak kata “jangan” lainnya yang sering kita lontarkan pada anak-anak. Lucunya, kita tetap saja mengatakannya meski jarang ada reaksi positif dari sang anak. Ya, entah bagaimana, ketika kita mengucapkannya, kata-kata itu menguap begitu saja di udara karena si anak tetap melakukan apa yang kita larang. Mereka seperti tidak dengar-dengaran, acuh tak acuh, bahkan kita sering mengklaim mereka sebagai anak nakal yang tidak taat.

Pertanyaan yang lebih penting sekarang sebenarnya adalah mengenai mengapa mereka tidak bereaksi? Jawabnya sederhana, karena daya tangkap anak tidaklah sebaik orang dewasa. Khusus anak usia balita misalnya, saat kita mengatakan “jangan lari” maka sesungguhnya hanya kata “lari” saja yang ia tangkap. Anak tak mengindahkan larangan “jangan”nya, yang ia dengar hanyalah kata “lari”nya saja. Jadi, semakin larilah ia karena merasa disuruh lari…

Jika Anda tak percaya dengan teori ini, coba praktik sekarang. Tanyakan umur pada anak usia 3 tahun, dan dapati bahwa setiap jawaban yang diberikannya pastilah angka terakhir Anda sebut.

“Adik, umur berapa sekarang, 3 atau 4?”
“4”, jawabnya.
“4 atau 3”, tanya Anda.
“3” , jawabnya.

Jadi, sesudah kita tahu bahwa ‘haram’ hukumnya memakai kata “jangan”, lalu bagaimana cara kita mengarahkan mereka? Lakukan dengan langsung, to the point, sebab sepertinya bukan hanya orang dewasa saja yang benci perkataan bertele-tele, anak kecilpun juga. Apa yang ingin kita katakan pada mereka, langsung utarakan itu.

Jika kita tak ingin anak duduk di meja misalnya, maka minta ia duduk di tempat di mana Anda ingin ia berada. Arahkan anak ke sana, “Duduk situ ya nak”. Gunakan kalimat perintah langsung, dan sedapat mungkin biasakan diri mengeliminasi kata “jangan”. Dengan begitu, Anda takkan capek melarang tanpa ada hasil, dan si kecilpun takkan terus-menerus merasa terhukum karena salah langkah.

Satu lagi yang perlu diingat adalah, karena anak terbatas dalam hampir segala hal dibanding orang dewasa (maklum anak masih hidup dan belajar beberapa tahun sejak lahir ke dunia ini), maka perlu juga kadang-kadang untuk mengarahkan mereka dengan sikap. Bila kita ingin anak berhenti memukul, maka pegang lembut tangannya, lalu arahkan itu untuk membelai. Gosokkan tangannya ke pipi Anda supaya ia menyadari fungsi tangannya adalah untuk membelai, dan bukan memukul. Ajari ia dengan sikap nyata nan lembut karena itu lebih berdampak ketimbang ucapan nyaring belaka.

Memang hal ini tidak mudah, namun bisa dibiasakan. Dan bila sudah jadi kebiasaan, maka Anda sendiri yang akan diuntungkan karena tujuan pasti tercapai tanpa perlu melukai harga diri buah hati. Siap praktik ibu?

Oleh : Mega


Related Posts :