Sabtu, 30 Juli 2016

Apa yang Ditabur Itu yang Dituai

Setiap kita pasti pernah mendengar pepatah tersebut. Kandungan pepatah tersebut bisa masuk dalam segala lini kehidupan manusia, baik di dunia pekerjaan, interaksi dengan sesama bahkan di dalam rumah tangga. Di dalam rumah tangga, ia bukan saja terjadi antara suami dengan istri. Antara ayah dengan anak juga bisa terjadi.

Di dalam beberapa seminar keluarga kerap disampaikan anekdot yang cukup menyentuh. Dahulu, anak ketika masih kecil suka minta diperhatikan oleh ayahnya dan suka mengajak bermain. Tapi, sang ayah selalu memberikan alasan bahwa ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Janji wisata pun sering tak jadi dilakukan, karena ada meeting di kantor.

Begitu anaknya sudah dewasa dan ayahnya mulai pensiun, tinggal di rumah baginya begitu membosankan. Sehingga, ia pun meminta kepada anaknya untuk menemaninya memancing atau bercakap-cakap, namun sang anak mengatakan bahwa ia tidak bisa menemani, karena sibuk dengan urusan kuliah atau jika ia sudah bekerja akan mengatakan sibuk dengan pekerjaannya.

Sungguh, anekdot tersebut kerap terjadi di lingkungan keluarga. Apa yang kita tabur, begitulah yang kita tuai. Bila dahulu sering meninggalkan anak di rumah atau bahkan merasa bahwa kebutuhan anak di masa kecilnya hanyalah membelikannya makanan, mainan dan baju. Sehingga, ketika ia sudah dewasa bisa jadi dia bakal berperilaku yang sama seperti apa yang dilakukan ayahnya dahulu.

Ketika ayahnya meminta untuk ditemaninya mengobrol, maka ia mengatakan tidak memiliki waktu karena sibuk dengan pekerjaannya. Ketika ayahnya minta ditemaninya memancing, ia mengatakan ada meeting di kantor yang harus dihadirinya.

Sungguh, apa yang ditabur kepada anak di masa kecilnya akan dituai hasilnya di masa ia dewasa. Karena itu, sayangilah anak dengan baik. Bekerja di kantor memiliki limit hingga pensiun, tapi kebersamaan dengan anak tidak memiliki ada kata pensiun. Jangan sampai pekerjaan kantor menggadaikan kasih sayang kepada anak.

Ada sebuah cerita menarik yang terdapat di dalam buku Setengah Isi Setengah Kosong karya Parlindungan Marpaung yang layak diambil pelajaran dan renungan.

Suatu hari, Sephine bersama teman sekelasnya di Taman Kanak-kanak diminta oleh sang guru untuk membuat gambar keluarga. Setiap anak pun mulai menggambar. Setelah selesai, gambar-gambar dikumpulkan dan dinilai.

Hasilnya, Sephine mendapat pujian yang luar biasa. Gambar yang dibuatnya mendapat nilai tanda bintang serta sebatang coklat dari sang guru. Betapa senangnya hati anak ini, gambarnya memperoleh apresiasi yang luar biasa dari gurunya. Begitu tiba di rumah, ia pun buru-buru menunjukkan karya seninya kepada sang ibu.

Malam harinya, Sephine menunggu dengan setia kepulangan ayahnya. Begitu pintu diketuk dan namanya dipanggil, Sephine langsung berteriak, “Papa, Sephine punya gambar bagus tentang rumah Sephine dan coklat lagi dari ibu guru!” Si ayah pun kaget, tetapi ikut senang dan mulai berdiskusi dengan anaknya untuk menanyakan gambar apa yang dibuat.

Mulailah Sephine bercerita, “Ini rumah kita Pa, ini Mama, yang ini pohon, yang ini ada adik dan bibi, bagus ‘kan?

Si ayah pun mulai mengerutkan dahi sambil bertanya kepada anaknya, “Lho, dalam gambar itu Papanya mana?”

Dengan enteng Sephine menjawab, “Papa ‘kan jarang di rumah!”

Nah, cerita ini sungguh menjadi pelajaran bagi para orang tua. Bagilah waktu untuk selalu bersama anak-anak kita. Jangan sampai mereka merasa bahwa kita jauh atau sulit sekali untuk ditemuinya. Hati ini akan sedih bila anak kita yang polos menilai diri kita dengan penilaian yang negatif.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :