Sabtu, 30 Juli 2016

ASI Tidak Sekedar Air Susu Ibu



Kita semua sepakat bahwa poin pertama pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) menyarankan untuk mengonsumsi beraneka ragam makanan. Hal ini tentu saja dengan alasan bahwa zat gizi yang lengkap tidak bisa didapat hanya dari satu atau dua jenis bahan makanan, melainkan dengan beraneka ragam. Namun ternyata ada satu sumber makanan yang memiliki zat gizi yang paling lengkap. Hanya satu, yaitu ASI!

Air susu ibu (ASI) merupakan emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekresi oleh kelenjar payudara ibu yang berguna sebagai makanan utama bagi bayi. Ada sekitar 200 jenis asam lemak, yakni 80 persen asam lemak tak jenuh ganda, antara lain asam linolenat omega-3, EPA dan DHA serta asam linoleat omega-6 ARA yang berperan penting dalam tumbuh-kembang otak, pertumbuhan sel-sel otak, mielinisasi jaringan saraf, serta ketajaman penglihatan. Asam lemak rantai panjang atau long chain poly unsaturated fatty acid (LC-PUFA) merupakan jenis asam lemak yang sangat diperlukan dalam perkembangan otak bayi.

ASI juga berisi antibodi bakteri dan virus, termasuk kadar antibodi IgA sekretori yang relatif tinggi yang mencegah mikro organisme melekat pada mukosa usus. ASI juga merupakan sumber laktoferin, protein whey yang mengikat besi normalnya sekitar sepertiga terpenuhi dengan besi, yang mempunyai pengaruh menghambat pertumbuhan Escherichia coli dalam usus.

ASI merupakan makanan alami terbaik bagi bayi di awal kehidupannya dan makanan yang paling cocok bagi bayi serta mempunyai nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat manusia ataupun susu hewan seperti susu sapi, susu kerbau, dan lain-lain. ASI adalah yang paling cocok dari semua susu yang tersedia untuk bayi manusia karena ia secara unik disesuaikan.

untuk kebutuhan dirinya. Selain tujuan fisik, memberikan ASI juga dapat mengakrabkan hubungan ibu dan bayi, dan hal ini sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa bayi. ASI sangat menguntungkan ditinjau dari berbagai segi, baik segi gizi, kesehatan, ekonomi maupun psikologis.

Para ahli sepakat bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat jika diberikan pada 6 bulan pertama atau yang biasa kita kenal dengan ASI eksklusif. Dokter anak yang juga pakar laktasi, Utami Roesli, Sp.A., IBCLC., FABM menegaskan, pemberian ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan menjamin tercapainya pengembangan potensi antara lain kecerdasan anak secara optimal. Berdasarkan hal-hal di atas, WHO/UNICEF membuat deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi Innocenti (Innocenti Declaration). Deklarasi yang dilahirkan di Innocenti, Italia tahun 1990 ini bertujuan untuk melindungi, mempromosikan, dan memberi dukungan pada pemberian ASI. Deklarasi yang juga ditandatangani Indonesia ini memuat hal-hal berikut:

“Sebagai tujuan global untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi secara optimal maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif dan semua bayi diberi ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 4-6 bulan. Setelah berumur 4-6 bulan, bayi diberi makanan pendamping/ padat yang benar dan tepat, sedangkan ASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. Pemberian makanan untuk bayi yang ideal seperti ini dapat dicapai dengan cara menciptakan pengertian serta dukungan dari lingkungan sehingga sehingga ibu-ibu dapat menyusui secara eksklusif ”

Pemberian ASI juga dapat mengurangi tingkat angka kematian bayi (AKB), karena usia bayi merupakan usia yang sangat rentan. Berdasarkan Millennium Development Goals (MDGs), WHO menetapkan target untuk mengurangi dua pertiga tingkat kematian bayi atau anak-anak di bawah usia lima tahun. AKB di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, yaitu 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina, 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand dan 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia. Diperkirakan pada tahun 2015 AKB di Indonesia mencapai 21 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup. Angka ini belum memenuhi target dari MDGs yaitu sebesar 17 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup.

Tingginya nilai AKB ini menunjukkan pentingnya memperhatikan periode awal kehidupan bayi, dan hal ini selalu identik dengan konsumsi makanannya. Hanya satu solusi yang dapat diberikan, yaitu ASI! Selain praktis, murah, dan kaya gizi, apakah ada pilihan lain untuk ini?

Oleh : Armina Puji Utari


Related Posts :