Sabtu, 30 Juli 2016

Cara Mengatasi Anak Suka Mengambil Barang Orang Lain

Kita sebagai orang tua tentu akan terkejut, marah dan malu jika mendengar atau mengetahui anak kita suka mengambil barang orang lain. Apalagi, anak sempat dicap oleh orang lain atau temannya sebagai pencuri. Tentunya kita pun tidak menginginkan anak tumbuh mempunyai kebiasaan mengambil barang yang bukan hak miliknya, bukan?

Bagaimana cara mengatasi anak yang suka mengambil barang milik orang lain?

1. Menahan dan mengontrol sikap emosional kita sendiri.

Ingat, tujuan utama kita sebagai orang tua adalah membina dan mendidik perilaku anak, agar sesuai dengan keinginan atau harapan kita dan dapat memenuhi standar hubungan sosial. Tidak ada gunanya sikap keras dan galak menyikapi perilaku salah anak. Seperti menunjukkan ekspresi marah dan memberi hukuman badan pada anak. Sikap keras dan galak orang tua tersebut hanya dapat menghentikan perilaku salah anak untuk sementara saja. Hukuman tersebut malah mendorong munculnya sikap licik anak, kemahiran berbohong anak dan anak selalu mencoba mencari cara untuk mengecoh atau mengelabui orang tua.

2. Berusaha menyentuh kesadaran hati nurani anak.

Tentunya kita mengetahui hati nurani itu adalah sebagai kendali internal atas perilaku individu atau kemampuan seseorang untuk mengetahui dan membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Memang, membentuk nilai standar tingkah laku internal terlalu sulit dan berat bagi anak kecil. Oleh karena itu, perilaku anak kecil harus dikendalikan oleh batas-batas yang ditentukan oleh lingkungan sosialnya (orang tua), mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Nah, di saat kita mengetahui anak melakukan perbuatan yang melanggar aturan, maka kita sebagai pengendali perilaku anak, wajib membina dan mengarahkannya dengan baik. Dengan kata lain, kita harus menyadarkan hati nurani anak, bukan untuk menyakiti perasaan atau memojokkan anak.

3. Membangun kedekatan dengan anak.

Kita harus mau meluangkan waktu untuk bisa lebih dekat dengan anak. Anak yang dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan, fisik dan mentalnya sangat membutuhkan perhatian kita yang lebih banyak, untuk turut campur tangan dalam membina perkembangan perilaku anak. Caranya, tentu saja kita harus senantiasa membangun komunikasi secara intens dengan anak. Kita harus bisa menjadi teman diskusi dalam hal apa saja yang berkaitan dengan aktivitas, keinginan, dan harapan anak. Kita harus siap mendengar dan memperhatikan setiap perkataan maupun keluhan anak, baik yang terjadi di rumah maupun di luar rumah, seperti di sekolah dan lingkungan pergaulan anak.

4. Mengajarkan cara menolak ajakan teman yang tidak baik.

Kita harus menyadari, anak dalam kelompok bermain (peer group) sangat rentan dari pengaruh teman, baik yang positif maupun negatif. Oleh karena itu, kita harus mengajarkan cara-cara menolak ajakan teman yang tidak baik, tanpa harus menyinggung perasaan teman-temannya. Kita harus membuat anak berani mengatakan “tidak” dan mengalihkan perhatian temannya pada kegiatan lain yang lebih menarik dan positif serta kalau temannya tetap ngotot memaksakan keinginannya, anak harus berusaha menghindar dengan berbagai alasan yang logis.

5. Biasakan anak hidup hemat dan pandai mengelola keuangan.

Pola hidup hemat perlu dikembangkan pada anak sejak dini. Anak diajarkan gemar menabung. Kita pun tidak boleh langsung memenuhi segala keinginan anak. Caranya, dia harus menabung sisa uang sakunya terlebih dahulu. Begitu juga anak harus dibiasakan untuk menentukan pilihan dari banyak keinginannya. Anak harus dapat menentukan prioritas keinginannya.

Oleh: Nur Rokhanah
Daftar Pustaka:
Surya, Hendra. 2005. Kiat Mengatasi Penyimpangan Perilaku
Anak (2). Jakarta: PT Elex media Komputindo.


Related Posts :