Sabtu, 30 Juli 2016

Ciptakan Keluarga Idaman dengan Ibadah Berjamaah

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”. (QS An-Nisa : 9)

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah,ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda : Tidaklah setiap anak terlahir kecuali dalam keadaan suci. Orangtuanya lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR.Bukhori).

Tujuan indah keluarga idaman menjadi bayangan ketika kita membangun sebuah keluarga, hal ini akan menjadi berubah dengan seiring perjalanan kehidupan berkeluarga. Oleh karenanya, memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah adalah sebuah kesempatan emas dan sangat istimewa. Keteladanan yang baik ini akan membawa kesan positif dalam jiwa anak.

Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak tak lain adalah orangtuanya. Anak merupakan buah hati titipan ALLAH swt, diharapkan titipan ini dijaga dan dididik agar dapat sukses dunia dan akhiratnya.



“Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan Shalat, jika anak-anak itu telah berumur tujuh tahun dan pukullah jika umurnya telah mencapai sepuluh tahun(belum/tidak mau mengerjakan Shalat) dan pisahkanlah tempat tidur diantara anak-anakmu itu”.(al-Hadist, Sunan Abi Dawud, Juz 1 hlm. 133)

Mengenalkan anak untuk beribadah sejak dini merupakan langkah awal untuk menuju kesuksesan dunia akhiratnya. Pada usia dini, anak belum banyak terpengaruh oleh hal-hal negatif di lingkungan luar. Pemikirannya masih polos dan hanya akan mengikuti apa yang orang tuanya lakukan. Untuk itu, pengenalan beribadah sejak dini merupakan cara yang efektif, sehingga ibadah menjadi suatu kebiasaan yang positif dalam kehidupannya.

Rasulullah SAW memerintahkan agar orangtua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Dalam hal keteladanan shalat, pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh oleh anak adalah dengan gerakan-gerakan shalat.

Seorang ayah perlu mempelajari gerakan shalat yang sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga anak akan mendapatkan contoh gerakan shalat yang benar dari ayahnya. Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak semakin mampu melakukannya.



Pada tahap berikutnya keteladanan yang bisa diberikan seorang ayah adalah bacaan al-Qur'an di dalam shalat dengan suara yang terdengar oleh anak. Selain mendapatkan stimulasi gerakan shalat anak juga bisa belajar dari bacaan shalat. Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Ayah harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak mereka. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung.

Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya. Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Karena itu hindarkan pemaksaan pada mereka. Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan hanya akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil.

Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. Sehingga anak akan menikmati gerakan shalat dengan sendirinya.

Ajaklah anak-anak melakukan shalat jamaah bersama-sama di rumah atau di masjid. Biasakan dengarkan mereka dengan bacaan-bacaan AI-Quran sang ayah. Setelah shalat jamaah selesai, suasana yang masih khusyuk adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan kemuliaan ajaran agama Islam.

Dengan kebiasaan shalat berjamaah ini akan menumbuhkan rasa sakinah mawaddah dan rahmah di dalam atmosfer keluarga. Dengan shalat berjamaah, keluarga tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Allah SWT, ayah pun mampu membangun hubungan yang harmonis dengan anggota keluarga, sehingga hubungan keluarga tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh hubungan kecintaan rohani. Mencintai ayah sebagai pemimpin keluarga, dan mencintai anak sebagai bagian dari keluarga karena Allah SWT.

Suasana cinta semacam ini akan menumbuhkan ketenangan dan ketenteraman hati, membentuk keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan. Shalat jamaah menjadi ikatan yang kuat yang akan mengikat anggota keluarga satu sama lain. Keasyikan suasana shalat berjamaah, menjadi kerinduan setiap anggota keluarga.

By : Ade Wahyu Nurjaman
Image :
- http://3.bp.blogspot.com/-4EDEkPMdSHs/UuCXmi3-hwI/AAAAAAAABAE/48gpFArftoY/s1600/340136_323202021035921_100000383784958_1131479_360766937_o.jpg
- http://www.hidayatullah.com/engine/files/image/2013/04/shalat-keluarga.jpg


Related Posts :