Sabtu, 30 Juli 2016

DAUN DI ATAS BANTAL : potret anak Indonesia yang terlupakan

Film Garin Nugroho yang ditulis duet dengan Armantono ini mampu membuat saya terharu dan tertawa bersamaan. Awalnya, saya menobatkan film Sang Martir yang dibintangi oleh aktor tampan Adipati Dolken sebagai film terapik nomor satu di hati, namun setelah menyaksikan film ini posisi itu berhasil tergeser.

Film ini berkisah tentang kehidupan tiga anak Jalanan di pinggiran kota Yogyakarta bernama Heru, Kancil, dan Sugeng yang berharap keluar dari kemiskinan melalui kerasnya kehidupan di jalanan. Berbagai cara mereka tempuh untuk memenuhi harapannya, mulai dari menjual ganja, mencuri, mengamen hingga membuat grafiti. Sayangnya, nasib baik tak berpihak pada ketiga bocah malang itu. Harapan mereka pupus setelah akhir yang tragis menimpa mereka satu persatu.

Jalan hidup yang menyedihkan tak cukup membuat orang-orang berpangkat menoleh pada mereka. Justru kehidupan yang malang dimanfaatkan oleh para mafia asuransi untuk memenuhi kantong pribadi. Namun sayangnya, dalam film yang muncul bersamaan dengan berakhirnya era reformasi ini tak membahas kematian Heru yang diakibatkan oleh mafia asuransi  tersebut secara mendalam.

Kesan mengambang juga terdapat dalam tokoh Asih yang diperankan apik oleh Christine Hakim. Penonton seolah diajak untuk menebak siapa Asih sebenarnya. Entah dia seorang pelacur atau hanya seorang wanita kesepian akibat kekejaman suaminya? 

Sebagai penonton, saya juga merasa bingung dengan hubungan dan emosi yang terjalin antara Asih dengan ketiga anak jalanan tersebut. Saat adegan satu persatu anak jalanan itu meninggal, Asih menangis kehilangan. Namun di sisi lain, Asih seolah tak peduli dengan Anak jalanan tersebut. Entah hal itu karena Asih memang benar-benar acuh atau karena dirinya takut kehilangan saat anak-anak tersebut  benar-benar meninggalkannya?

Dengan durasi delapan puluh tiga menit, Garin berhasil menyuguhkan realitas sosial secara pekat dengan diksi sederhana dibanding film-film lain karyanya. Walaupun dengan judul yang sangat puitis, film ini jauh dari kesan adiktif berkat nuansa kehidupan anak jalanan yang begitu ditonjolkan. Penonton seolah-olah mampu merasakan tawa dan kesedihan yang dialami oleh Heru,Sugeng dan Kancil.

Adegan yang paling menyentuh hati saya adalah saat si kancil mencuri bantal milik pengamen cilik untuk adik kandungnya. Rasa rindu kancil yang besar pada adiknya membuat kancil mencuri bantal tersebut dan menghadiahkannya untuk sang adik. namun sayang, belum sempat menemui adiknya si Kancil harus menghadapi kisah tragis.

Si Kancil  mengingatkan saya pada sepupu saya yang seorang yatim bernama Bima. Wajahnya yang mirip juga nasib yang sama-sama memisahkan mereka dari adik kandungnya sukses membuat saya menitikkan air mata (hal langka saat saya menonton film). Untungnya, kisah yang tragis seperti Kancil tak seluruhnya dimiliki Bima. Masih ada seorang nenek yang merawat Bima dari kecil sehingga anak lelaki itu tak perlu hidup di jalanan dan masih bisa merasakan bangku sekolah.

Kehidupan anak jalanan tersebut juga membuat rasa rindu mendera saya kepada Tina, kawan kecil saya. Seorang gadis cilik dengan usia sekitar delapan tahunan. Saya bertemu dengan Tina saat dia mengamen di lampu merah yang tak jauh dari kampus.

Saya masih ingat jelas, saat itu malam minggu. Sangking bosannya berdiam di kamar kos, saya memutuskan untuk berjalan-jalan tak karuan hingga akhirnya saya berhenti di lampu merah dan bertemu dengan gadis kecil berambut panjang itu. Sejak saat itu saya jadi sering bertemu dengannya.

Kebetulan juga saya mendapat tugas untuk mengajar di sebuah perkampungan tuna wisma yang terletak di kota yang sama dengan tempat saya kuliah. Dan Tina ternyata juga tinggal di sana. Sejak itulah kami sering bertemu, mengobrol dan bercerita segala sesuatu, termasuk kehidupan pribadi Tina.

Memang masih banyak potret anak Indonesia yang belum kita ketahui. Salah satu contohnya adalah potret anak jalanan, bagian dari masyarakat kita yang cukup terabaikan. Undang-undang Dasar  pasal 34 ayat 1 yang berbunyi " Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara" seolah-olah hanya omong kosong belaka. Buktinya sampai detik ini masih banyak anak jalanan yang terabaikan.

Oleh : Ariska Puspita Anggraini
Penulis adalah mahasiswa sastra prancis Universitas Brawijaya Malang. Aktif sebagai reporter dan staf MSDM(Manajemen Sumberdaya Manusia) di Lembaga Pers Kampus


Related Posts :