Sabtu, 30 Juli 2016

Manfaat Membacakan Dongeng Untuk Anak

Biarpun zaman sudah berubah, teknologi semakin berkembang, hendaklah budaya mendongeng tetap dipertahankan. Seperti di negara Jepang misalnya. Budaya yang dianggap tidak sesuai dengan perkembangan jaman itu masih tetap dipertahankan kok. Buktinya, di tempat-tempat penitipan anak, kelompok bermain dan TK, selalu ada jadwal khusus untuk mendongeng. Hal itu karena mereka sadar, manfaat dongeng sangatlah banyak. Sesuatu yang tidak bisa ditemukan kalau anak menonton televisi, bermain game ataupun kegiatan lainnya.

Ada beberapa saran agar mendongeng sarat manfaat. Pertama, bacakan dongeng lewat buku. Entah itu dongeng tentang peri, binatang, cerita realistik anak-anak ataupun cerita ajaib. Pilihlah cerita yang sesuai dengan usia anak. Kalau perlu, dramatisir cerita agar anak lebih menjiwainya. Bisa dengan gerakan tangan, ekspresi muka dan lain sebagainya.

Yang perlu diperhatikan, orangtua jangan membacakan cerita seram dan menegangkan. Apalagi menjelang tidur. Anak bisa menjadi gelisah. Dalam membacakan dongeng juga janganlah orangtua merasa terpaksa. Waktunya tidak selalu harus menjelang tidur. Tetapi bisa juga dilakukan pada waktu senggang, di mana suasana sedang santai dan menyenangkan.

Berikut beberapa manfaat dongeng, diantaranya.:

  • Dongeng adalah guru moral.
    Lewat mendongeng, orangtua bisa menyelipkan pesan moral kepada anak. Entah itu nasehat, pendidikan moral dan etika. Hal itu malah lebih efektif dibanding menasehati anak secara langsung.
  • Dongeng adalah guru intelektual.
    Lewat mendongeng juga, anak mengetahui berbagai hal. Tentang manusia, kehidupan, lingkungan bahkan bisa mengenal dirinya sendiri.

  • Dongeng adalah guru kreativitas.
    Dongeng bisa merangsang daya khayalnya. Artinya dongeng bisa memberi fantasi. Sedangkan fantasi merupakan kebutuhan intrinsik bagi pertumbuhan anak. Fantasi itu bisa mendukung kreativitas. Sehingga ketika mendengarkan cerita, minat dan fantasinya berkembang. Pada akhirnya anak bisa bersimpati. Bahkan memberinya motivasi untuk meraih sesuatu.
  • Dongeng menjadi penghangat hubungan.
    Membacakan dongeng untuk anak juga dapat meningkatkan komunikasi yang baik antara ibu dan anak. Anak bisa menanyakan hal-hal yang tidak mengertinya. Ia pun bisa meminta ibunya untuk mengulang bagian yang menurutnya menarik. Kontak batin pun akan terikat lebih dalam. Akhirnya, anak akan menjadi lebih terbuka kepada orang tuanya.
  • Dongeng adalah guru bahasa yang baik.
    Cerita dongeng bisa membantu anak mengembangkan kosa kata, memperkenalkan susunan dan nuansa bahasa. Jadinya, sejak kecil anak sudah terbiasa mendengarkan bahasa yang baku walaupun belum bersekolah. Ia akan belajar bahwa buku adalah sumber informasi. Ini akan membuat anak kelak terbiasa menghadapi buku jenis lain atau buku pelajaran dengan cara yang arif.
  • Dongeng adalah penumbuh minat baca nomor satu.
    Dongeng dengan cerita bergambar bisa memperkenalkan anak pada buku sejak dini. Mary Leonhardt, pakar di bidang penumbuhan minat baca anak, mengatakan bahwa membacakan dongeng dari buku merupakan bentuk pelatihan yang diberikan kepada anak agar anak suka membaca. Ke depannya anak akan bisa memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik.
  • Dongeng adalah sarana belajar berkonsentrasi.
    Dongeng itu sifatnya menarik sehingga anak akan melebarkan rentang perhatiannya saat mendengarnya. Tanyalah kembali isi ceritanya. Biasanya anak bisa mengingatnya dengan baik.

Dan ternyata, selain bermanfaat bagi anak, membacakan dongeng juga memberi manfaat secara tidak langsung terhadap orangtua. Orangtua Jadi bisa belajar berbahasa yang baik dan benar. Sehingga sering tanpa sadar, ketika berbicara dengan orang lain bahasanya menjadi bagus. Orangtua yang sering membacakan cerita untuk anak lewat buku juga, lama-lama akan bisa mengetahui mana buku yang baik dan tidak.

Oleh : Dewi Iriani
Referensi :
Ivo, Herman dan Sudarwan."Dongeng, Gejala Modernitas dan Televisi".Dalam Pikiran Rakyat,26 Oktober 1997, Bandung.
Armando, Nina M."Mendongenglah dengan Buku".Dalam Republika, 1 Agustus 1999,Jakarta.


Related Posts :