Sabtu, 30 Juli 2016

Mendidik Anak Saleh: Berawal dari Orang Tua



Buku : Kado Istimewa untuk Ayah dan Bunda (Mendidik Anak dari Kandungan hingga Dewasa)
Penulis : Dr. Yasir Naser
Penerbit : Wafa Press, Klaten
Tahun Terbit : September, 2013
Halaman : X + 248 halaman

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh. Sebagai gambaran dari keinginannya tersebut selalu melantunkan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an, "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqon: 74). Cukupkah hanya dengan membaca doa ini saja keinginan bisa tercapai? Atau seperti apakah sebenarnya memahami keinginan memiliki anak yang saleh lalu dikaitkan dengan doa tersebut?

Adalah Dr. Yasir Naser di dalam bukunya “ ‘Asyru Rasaail Likulli Abi wa Ummi” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kado Istimewa untuk Ayah Bunda: Mendidik Anak dari Kandungan hingga Dewasa” menjawab pertanyaan tersebut. Di dalam buku ini, penulis menyatakan bahwa untuk memiliki anak yang saleh tak cukup hanya dengan melantunkan doa kepada Allah saja. Tapi yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah, dengan pembentukan diri dari kedua orang tua. Karena hal ini juga sudah dijelaskan oleh Allah SWT. di dalam al-Qur’an, bahwa tak akan terjadi perubahan tanpa ada perubahan dari diri sendiri. (QS. Ar-Ra’ad: 11)

Perubahan diri yang dimaksud bukan saja dalam tataran ibadah, tapi juga dalam tataran komunikasi keseharian di rumah antara suami dan isteri. Sebelum anak lahir, suami mesti memahami bahwa ia harus menyiapkan diri untuk membantu isteri mengurus rumah. Ketika anak lahir hingga menjadi menjadi balita lalu ia melihat kedua orang tuanya akur dan saling membantu, maka ini akan terekam dalam dirinya untuk menjadi orang yang baik.Demikian halnya dalam hal ibadah. Ketika anaknya menyaksikan kedua orang tuanya taat dalam beribadah, maka anak kelak akan menjadi orang yang taat ibadah. (hal. 16-18).

Selain itu, melalui buku ini juga penulis mengkritik keras perilaku orang tua yang kerap melarang anaknya, tapi ia sendiri tetap melakukan hal yang dilarang tersebut. Contohnya ketika orang tua melarang menonton tayangan dewasa di televisi tapi orang tua malah menonton di saat anak sedang jaga. Demikian hal juga, penulis mengkritik perlakuan orang tua dalam hal mendidik karakter anak yang diserahkan secara penuh kepada sekolah. (Hal. 15-16)

Buku ini sangat kaya informasi bagi para orang tua yang ingin mendidik anaknya. Bukan saja dari sisi kajian psikologis, tapi juga dari sisi kajian Al-Qur’an, hadis dan sejarah juga ikut disertakan oleh penulis. Misalnya saja, kisah seorang anak yang mengembala 10 ekor kambing, lalu Umar bin Khattab meminta dan bahkan berniat untuk membelinya. Namun karena bukan miliknya, anak tersebut tak mau menjualnya. Malah, ia menjawab permintaan Umar tersebut dengan berkata, “Jika sampai saya melakukannya, di mana Allah?” Mendengar jawab anak tersebut Umar menangis dan bahagia melihat keteguhan iman anak tersebut. (hal. 157-158) Tentu saja anak tersebut adalah anak hasil didikan orang tua yang saleh dan bertauhid kepada Allah.

Buku ini dibagi oleh penulis menjadi 10 bagian yang diistilahkannya dengan 10 kado. Yaitu, menyambut kelahiran; 30 tips agar anak hafal al-Qur’an; Tips agar anak gemar shalat; Menumbuhkan jiwa kepemimpinan; 30 ide untuk memanfaatkan masa liburan; Para sahabat dan pendidikan anak; Memilih teman; Membentuk kepribadian anak; Anak-anak dan bulan Ramadhan; Agar anak senang berjilbab. Buku ini layak dimiliki oleh para orang tua, agar bisa mendidik anaknya menjadi anak yang saleh. Pasalnya tidak ada yang lebih berharga selain anak yang saleh yang kelak akan mendoakan orang tuanya selalu, baik saat masih hidup maupun telah tiada. Selamat membaca!

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution, Anggota Komisi Infokom MUI Kota Medan


Related Posts :