Sabtu, 30 Juli 2016

Mengatasi Kemanjaan Anak

Anak merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Ia tidak hanya merupakan titipan dari Allah yang harus dijaga dengan amanah, namun para orangtua juga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam mendidik, merawat, dan membesarkan anak-anak mereka, agar kelak bisa tumbuh sebagai pribadi yang baik, mempunyai masa depan yang cerah, dan berbakti pada kedua orangtuanya. Sehingga orangtua memberikan segenap curahan kasih sayang yang demikian besar kepada anak. Tak ayal banyak para orangtua yang keliru dalam menerapkan dan mencurahkan perasaan kasih sayangnya kepada anak, sehingga anak-anak tumbuh dengan sikap manja dan selalu tergantung pada orang lain.

Untuk taraf tertentu, kemanjaan seorang anak memang bisa dimaklumi. Apalagi rasa “manja” tersebut disinyalir mampu menumbuhkan bonding atau ikatan batin yang kuat diantara anak dan orangtuanya. Sehingga perasaan dekat, nyaman, dan merasa dicintai, terlahir dalam hati anak terhadap orangtuanya. Sekalipun kedua orangtuanya merupakan orang yang sibuk bekerja dan hanya punya sedikit waktu produktif bersama mereka.

Namun jika kemanjaan tersebut terus berlarut-larut selama pertumbuhan usianya menuju kedewasaan, tentu hal itu sangat mengkhawatirkan. Apalagi jika rasa “manja’ tersebut beringsut memberikan dampak yang negatif bagi pertumbuhan psikologis dan kemajuannya dalam berbagai bidang. Misalnya, ketergantungannya yang besar pada baby sitter membuat anak usia Sekolah Dasar (SD) tidak bisa menyisir rambutnya sendiri atau membersihkan kamarnya yang berantakan. Tentu kemanjaan yang biasanya dimaklumi tersebut akan menjadikan anak merasa hal-hal yang ada di luar batas kemampuannya merupakan hal yang wajar karena kodrat manusia yang tidak sempurna. Padahal hal tersebut terjadi karena kebiasaan buruk dalam mendidik anak melahirkan perasaan manja yang berlebihan, sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang tidak mandiri dan tidak mempunyai banyak keterampilan untuk mengerjakan banyak hal.

Oleh karena itu, orangtua harus memperhatikan bahwa kasih sayang yang mereka curahkan haruslah sesuai dengan kemampuan daya tangkap otak sang anak dan pertumbuhan usianya, sehingga anak bisa tumbuh dengan kecerdasan otak dan perkembangan sistem emosional yang stabil. Karena pra syarat untuk membentuk pribadi yang baik ialah perpaduan dua keseimbangan yang mampu dikorelasikan secara sinergis, yakni kecerdasan otak (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ).

Dengan kata lain, anak bisa memaksimalkan potensi dalam dirinya, belajar menjadi mandiri, dan tidak selalu menyuruh orang lain untuk mengerjakan seluruh tugasnya. Misalnya, menyelesaikan tugas PR atau merawat kesehatan tubuhnya sendiri. Sehingga rasa manja tidak memperbudak mereka karena paradigma pikir yang sejak awal keliru ditanamkan dalam benak orangtua terhadap anaknya.

Dan mungkin untuk sekali waktu, para orangtua bisa memberikan beberapa tugas ringan untuk membuat anak mereka merasa mempunyai tanggung jawab, serta bertujuan pula untuk mendidik sikap disiplin. Karena rasa manja selalu dikaitkan dengan rasa malas yang membuat si manja tidak mau berubah menjadi lebih baik. Padahal kehidupan ini laiknya jalan yang terus dilewati, sehingga selalu mendatangkan perubahan di setiap masanya. Oleh sebab itu, para orangtua harus siap menghadapi setiap resiko yang menghambat semangat dan motivasinya untuk menciptakan generasi penerus yang bertanggung jawab dan berkomitmen untuk maju dalam perubahan zaman dan perubahan waktu.

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :