Sabtu, 30 Juli 2016

Mengembalikan Dunia Anak Yang Hilang

“Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun…” sepenggal lagu yang dulu sering didendangkan oleh anak-anak itu seperti ditelan bumi, hampir tak pernah didengar lagi. Cerita rekaan yang diciptakan untuk mengisahkan tentang kenakalan dan kecerdikan kancil, tokoh utama dalam dongeng “Kancil nyolong timun” yang tergambar secara apik, sederhana, namun memiliki makna filosofi yang tinggi tak lagi berlalu lalang dalam perbincangan anak-anak sehari-hari.

Dan tak ayal anak-anak era sekarang tak lagi mengenal istilah dongeng atau cerita rakyat. Mereka telah asyik dengan dunia baru yang diperkenalkan oleh orangtuanya, seperti: play station, game online, lagu-lagu k-pop yang hits, dan film TV yang menayangkan kisah pacaran para remaja yang sebenarnya tak patut untuk menjadi teladan bagi anak-anak. Yang lebih ironis, serial kartun favorit anak-anak pun tidak mengajarkan pendidikan sama sekali, tengok saja; sponge bob yang identik dengan bodoh dan senang bermain; tom and jerry yang gemar berkelahi; shaun the sheep dan angry bird yang hanya menampilkan tontonan dan tidak memberikan pesan moral berarti pada anak-anak. Mendadak permainan anak seperti; congklak, gobak sodor, cublak suweng, digantikan secara periodik dengan permainan halma, ular tangga, ludo, catur, dan seterusnya. Lalu belakangan semua mendadak menjadi tidak lagi diminati, karena anak-anak kemudian disibukkan dengan permainan baru ala orang dewasa dengan Blackberry Messenger (BBM), facebook (FB), twitter, dan sebagainya.

Memang harus diakui bahwa dunia baca tulis masyarakat memang harus berkembang. Kakek moyang kita bersekolah di zaman penjajahan kolonial dengan menggunakan sabak, alat tulis serupa buku untuk mencatat perihal materi pelajaran yang dianggap penting. Namun dengan melesatnya teknologi, jangankan menulis secara manual di secarik kertas dalam lembaran buku, kita bahkan tak perlu repot mencatat pelajaran sekolah, karena ada fasilitas internet yang siap kapan saja memberi informasi apapun tentang semua hal yang ingin dipelajari di dunia dan akhirnya kita menjadi akrab dengan goggle, youtube, yahoo mail, bahkan situs jejaring sosial yang membuat kita mudah berkomunikasi dengan siapapun dan di manapun, seperti; facebook, twitter, frenster, yahoo messenger, chatting, dan seterusnya.

Akan tetapi, terlepas dari semakin mudahnya akses informasi manusia dalam memperoleh pengetahuan. Kita selaiknya menjadi selektif agar anak-anak tidak kehilangan jati dirinya sebagai anak-anak yang identik dengan aktivitas bermain. Sehingga harus ada sekat yang tegas tentang ruang mana saja yang boleh dimasuki oleh mereka (baca: anak-anak), agar ada filter terkait hal-hal atau berita yang boleh dan tidak boleh diakses oleh anak-anak. Hal tersebut dimaksudkan supaya anak-anak tidak terpapar dampak negatif dari melesatnya teknologi informasi, seperti; konten-konten video porno, gambar-gambar seronok, dan sebagainya. Dengan kata lain, perilaku anak tidak dipengaruhi oleh kebebasan yang diajarkan dalam dunia maya, sehingga anak-anak berkembang dan tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik.

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :