Sabtu, 30 Juli 2016

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak - 1

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.”(HR. Muslim)

Sudah jamak diketahui, di dalam syariat Islam, kedudukan seorang ayah dinilai sangat penting dan mulia. Malah, hadis di atas mengungkapkan bahwa Ayah adalah kepala keluarga yang memimpin isteri, anak dan siapa saja yang tinggal bersamanya. Karena itu, setiap laki-laki yang diklaim sebagai ayah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Timbul pertanyaan, apa saja beban yang dipikul seorang ayah terhadap anaknya? Sejauh mana peran ayah dalam mendidik anaknya?

Ayah, di dalam Islam, bukan hanya berperan sebagai ‘hamba’ yang diamanahi untuk membesarkan anak yang ‘dititipkan’ kepadanya. Dalam Islam, beban utama yang dipikul ayah adalah sebagai pembentuk generasi Islam yang saleh. Karena menjalankan tugas dan kewajiban merawat anak secara syar’i hanyalah bertujuan untuk menjadikannya sebagai perhiasan. Dikatakan perhiasan, karena anak yang akan menjadi bekal saat ditanya di hadapan Allah, dan mampu memberikan ‘bonus’ amal. Ia tak perlu merasa risau, karena anaknya sendiri yang akan menjadi saksi betapa ayahnya, memang, telah membentuknya menjadi generasi muslim yang saleh.

Apa saja yang harus dilakukan seorang ayah agar anaknya memiliki kepribadian yang saleh dan menjadi generasi Islam yang unggul? Jawabannya ada dua. Pertama, pembentukan dalam pendidikan akhlak. Akhlak dijadikan pendidikan yang paling utama, karena di dalam Al-Quran sendiri cukup banyak termuat kaidah-kaidah akhlak dan etika dalam segala aktifitas manusia. Bahkan, diangkatnya Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul Allah, hanya, untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karena itu, pendidikan akhlak terhadap anak, memang, menjadi titik fokus yang utama di dalam Islam. Hal ini dicontohkan Lukman al-Hakim sebagaimana disitir di dalam al-Qur’an, “(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman [31]: 16-19)

Tak hanya itu, Rasulullah Saw. sendiri mengklaim orang yang sempurna imannya juga melalui akhlak. “Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Kalau akhlak sedemikian penting menyangkut keimanan seseorang, tentu pendidikan akhlak juga menjadi perhatian penting. Bahkan Imam Al-Ghazali menuliskan dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Anak adalah amanah di tangan ibu bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Maka jika ia besar dengan akhlak yang baik maka akan bahagia dunia akhirat. Sebaliknya, apabila terbiasa dengan akhlak yang buruk, tidak dipedulikan sebagaimana hewan maka ia akan hancur dan binasa.” Hal ini senada dengan hadis Rasulullah Saw., “Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya selain akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Andaikata ayah tak pandai dalam mendidik akhlak anaknya, maka sudah menjadi tugas ayah mencarikan lembaga pendidikan atau sekolah yang mampu membentuk anaknya menjadi generasi yang Islam yang saleh dan berakhlak mulia. Karena keberadaan misi dakwah Islam di masa akan datang berada di pundak anak-anak yang berakhlak mulia.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :