Sabtu, 30 Juli 2016

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak - Habis

Kedua, pembentukan dalam pendidikan berpikir. Kenapa pendidikan berpikir dianggap perlu untuk diajarkan kepada anak? Karena generasi Islam yang saleh adalah mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang brilian. Pendidikan berpikir dalam Islam berupaya mengembangkan kreativitas pikir dan nalar, imajinasi, penguatan daya ingat, kemampuan analisis dan kemampuan mengenal yang menciptakannya. Tentunya, memberikan pendidikan berpikir tidak semua ayah bisa melakukannya. Maka, tak ada jalan lain kecuali menyekolahkan mereka di lembaga pendidikan yang mampu mengajarkan anak bagaimana berpikir yang baik. Bagaimana menjadikan mereka benar-benar mengenal Allah sebagai Tuhan? Tentunya, mengenal Allah di sini bukanlah pada taraf sekedar tahu, tapi mampu menuntun anak tersebut mampu membuktikan keesaan dan keberadaan Allah melalui akalnya. Akalnya benar-benar dipergunakan untuk berpikir mengenal Allah.

Karena itu, menjadi penting bagi seorang ayah memberikan kedua pendidikan seperti yang tersebut di atas terhadap anaknya. Anak itulah yang menjadi penolongnya saat amal di hitung di hadapan Allah. Tak ada perintah yang utama terhadap orang tua selain mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik. Dan, Rasulullah Saw. senantiasa berpesan, “Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah Akhlaknya.”

Menjaga Lingkungan Pergaulan Anak

Setelah memberikan pendidikan akhlak dan berpikir yang diajarkan Islam, maka tugas ayah juga menjaga lingkungan pergaulan anak agar tidak terkena ‘virus’ yang dapat merusak akhlak dan cara berpikir mereka. Jika ini terjadi, maka pendidikan yang selama ini digagas akan hancur dan tidak memiliki arti apa-apa. Anak yang sebagai ‘perhiasan’ tidak lagi menjadi sesuatu yang dibanggakan karena ia telah berubah. Karena itu, penting juga menjaga lingkungan pergaulan anak. Virus yang dapat merusak mereka berasal dari lingkungan sekitar mereka berada.

Di sini, dituntut kepintaran sang ayah dalam menjaga pergaulan anak. Jangan sampai anak yang didik dengan berpikir yang baik berubah menjadi berpikir yang buruk. Anak yang mempunyai akhlak yang mulia berubah menjadi berakhlak buruk. Karena Rasulullah Saw. mengatakan, “Perumpamaan antara teman yang saleh dengan seorang teman yang buruk itu bagaikan pembawa minyak wangi dengan tukang pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi itu boleh jadi akan memberimu atau engkau membeli darinya atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan tukang pandai besi boleh jadi akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan bau busuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, sang ayah dituntut mencarikan atau mengenalkan komunitas yang mampu menjaga akhlak dan cara berpikirnya yang benar.

Intinya, setelah memberikan pendidikan akhlak dan pendidikan berpikir yang benar kepada mereka sang ayah sangat dituntut juga untuk mengontrol pergaulan mereka. Eksistensi akhlak dan berpikir mereka yang benar akan sangat dibutuhkan saat mereka menjalani kehidupan di dunia ini, dan menjadi pilar untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang mengutamakan akhlak dan berpikir yang benar. Wallahua’lam.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :