Sabtu, 30 Juli 2016

Perilaku Durhaka Orang Tua terhadap Anak: Salah Memilihkan Calon Ibu atau Ayah (1)

Dalam suatu hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa “Orang mengawaini perempuan karena empat (perkara): karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Oleh karena itu, carilah perempuan yang mempunyai agama, (karena kalau tidak), binasalah dua tanganmu”.

Yang dimaksud salah memilih calon ibu atau ayah adalah memilih calon ibu atau ayah dengan menyalahi petunjuk-petunjuk agama. Pada hadits di atas juga disinggung tiga hal, yaitu:
  1. Mengutamakan keturunan, bukan akhlak dan agama calon, biarpun akhlak yang menjadi calon itu rusak.
  2. Mengutamakan kecantikan atau ketampanan calon walaupun akhlak yang bersangkutan rusak atau beragama lain yang haram dijadikan sebagai suami atau istri.
  3. Mengutamakan harta kekayaan calon walaupun akhlak dan agama yang bersangkutan rusak.

Hadist di atas harus kita lihat sebagai dasar tanggung jawab orang tua terhadap anak, yang berarti menjadi hak anak atas orang tuanya sebelum ia dilahirkan. Karenanya, kalau orang tua terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan ini, yaitu:
  • memilih calon ibu atau ayah yang akhlak dan agamanya rusak, misalnya: pelacur, penjudi, peminum minuman keras, pencuri, dan lain-lain,
  • tidak beragama Islam, misalnya perempuan muslimah nikah dengan laki-laki nonmuslim atau laki-laki muslim kawin dengan perempuan penyembah berhala atau Atheis,

maka mereka telah berbuat dosa kepada anaknya. Sebab hak anak untuk mendapatkan pendidikan tauhid dan akhlak Islam tidak ditunaikan dengan baik.

Sering kali orang tidak memperhatikan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya sebelum anak-anak itu lahir. Pada saat seorang laki-laki atau perempauan memimlih pasangan hidupnya sebagai suami istri sudah diperingatkan oleh Allah agar tidak memilih yang akhlaknya rusak atau yang beragama syirik atau kafir.

Perhatikan firman Allah dalam QS. An-Nuur (24): 3:



“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.”

Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid mengenai sebab turunnya ayat ini, yaitu tentang perempuan-perempuan pelacur pada zaman Jahiliyah, di antaranya seorang yang sangat cantik bernama Ummu Mahzul. Perempuan ini kemudian hari dikawini oleh salah seorang muslim yang fakir. Sang laki-laki dinafkahi oleh perempuan tersebut dari hasil usaha melacurnya. Kemudian Allah melarang perbuatan semacam ini dilakukan oleh orang Islam.

Kasus seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW ini tidak saja kita lihat sebagai suatu kisah sejarah dan ketentuan hukum syariat saja, tetapi juga sisi lain yang bersangkutan dengan pembinaan dan tanggung jawab terhadap anak keturunan kita, harus diperhatikan juga. Seorang laki-laki atau perempuan yang karena alasan kesenangan dunia memilih istri atau suami yang akhlaknya sudah jelas rusak atau agamanya tidak Islam, sebenarnya telah melakukan tindakan merusak agama calon anaknya yang kelak akan hidup di bawah naungan keluarganya.

Sumber: 20 Perilaku Durhaka Orang Tua terhadap Anak.

Oleh : Nur Rokhanah


Related Posts :