Sabtu, 30 Juli 2016

Perilaku Durhaka Orang Tua terhadap Anak: Mengajak Anak pada Kemusyrikan (2)

Kemusyrikan adalah perbuatan atau kepercayaan yang mengatakan bahwa Allah itu berbilang atau ada kekuatan lain yang setaraf dengan Allah. Misalnya, kepercayaan bahwa suatu benda mempunyai kesaktian.

Rusulullah SAW bersabda:

“Tak seorang pun bayi dilahirkan, melainkan pasti lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Ibaratnya seekor binatang melahirkan anaknya dengan sempurna. Adakah kamu dapati anak hewan itu cacat (hidung dan telinganya) sampai kamu sendiri membuatnya cacat (dengan mencocok matanya dan mengiris daun telinga bagian atasnya)?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semua orang tahu bahwa tulang rawan hidung binatang yang baru lahir adalah sempurna, tidak berlubang. Akan tetapi, setelah dewasa kebanyakan hidung kerbau, sapi, dan unta oleh pemiliknya dicocok agar berlubang untuk dimasuki tali kendali. Begitu juga telinga unta, sapi, kerbau, atau kuda, bahkan ada daun telinga kambing yang diiris bagian atasnya sehingga terbelah. Hal-hal semacam itu adalah suatu penyimpangan yang merusak keutuhan tubuh hewan yang bersangkutan.

Demikianlah, perumpamaan yang dikemukakan oleh Rasulullah terhadap orang tua yang mendidik anaknya dengan paham hidup maupun agama yang keluar dari prinsip tauhid atau keluar dari Islam. Karena itu, orang tua harus menanamkan kepercayaan tauhid sejak dini pada anaknya agar mudah mereka menerimanya.

Orang tua yang memaksakan kepercayaan atau keyakinan yang menyalahi tauhid kepada anak-anaknya berarti melawan fitrah tauhid yang ada pada diri tiap anak. Karena itu, orang tua yang berbuat semacam ini berarti telah merusak pertumbuhan fitrah tauhid anak dan berarti telah mendurhakai anak.

Orang tua yang mengajar dan mendidik putra-putrinya dengan agama dan kepercayaan yang penuh dengan kemusyrikan berarti telah melakukan kedurhakaan terhadap putra-putri mereka. Sebab tindakan mereka ini telah merusak fitrah tauhid anak yang telah Allah paterikan ke dalam hati sanubari mereka. Fitrah ini akan mengalami hambatan pertumbuhan atau penyimpangan dari garis yang lurus karena didikan dan ajaran orang tua yang menjerumuskan mereka ke dalam kemusyrikan.

Di kalangan sebagian orang-orang yang mengaku Islam sering kita temukan orang tua yang mengajarkan kesyirikan kepada anak-anaknya. Banyak contoh yang dapat kita sebutkan tentang perbuatan-perbuatan syirik yang ada di tengah masyarakat yang mengaku Islam, misalnya:
  1. Mempercayai adanya malapetaka kalau dalam satu keluarga berlangsung dua kali pernikahan dalam setahun.
  2. Perkawinan saudara muda yang mendahului saudara tuanya dapat menimbulkan malapetaka mempelai yang bersangkutan.
  3. Datang ke kuburan orang yang dikeramatkan untuk memohon berkah dan pertolongannya menghadapi masa depan kehidupannya.
  4. Tempat-tempat tertentu dipercaya sebagai tempat angker, sehingga perlu diberi sesaji untuk menghindarkan manusia dari malapetakanya.
  5. Bulan-bulan tertentu dipercaya sebagai bulan yang membawa malapetaka bila orang melakukan perkawinan dalam waktu tersebut, misalnya bulan Syura (Muharam).
  6. Mengajak anak yang akan menghadapi ujian akhir sekolah ke kuburan seorang yang dianggap keramat, misalnya kuburan sunan atau ulama untuk mendapatkan sawab atau barakah agar kelak anaknya lulus dengan baik dalam menghadapi ujian.


Oleh : Nur Rokhanah


Related Posts :