Sabtu, 30 Juli 2016

Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak: Merintangi Anak Menikah (8)

Allah berfirman di dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 32.



Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara ma’ruf. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Yang dimaksud dengan merintangi anaknya menikah yakni tidak membenarkan anaknya menikah dengan orang yang telah dipilihnya karena pertimbangan tertentu orang tua. Orang tua hanya dibenarkan merintangi anaknya menikah jika pertimbangan tertentu benar-benar didasarkan pada ketentuan agama, misalnya anak perempuannya hendak kawin dengan lelaki non Islam. Sebab bila perkawinan itu berlanjut, berarti anak putrinya bertekad menjadi orang murtad, sedang mencegah anak menjadi murtad adalah kewajiban orang tua. Akan tetapi, selama anak hendak menikah menempuh jalan yang sesuai dengan Islam, hal itu tidak dapat dirintangi.

Ayat termaktub di atas menegaskan bahwa para istri yang telah dicerai oelh suaminya tidak boleh dihalangi untuk kawin dengan lelaki yang diidamkannya setelah masa iddahnya habis. Bilamana seorang wanita memiliki kebebasan untuk memilih calon suami yang memenuhi syarat-syarat agama, sudah tentu anak laki-laki pun lebih memiliki kebebasan untuk itu. Karena anak laki-laki tidak memerlukan wali.

Contoh kasus-kasus orang tua yang merintangi anaknya yang hendak menikah antara lain:
  1. Orang tua melihat calon menantu orang miskin. Karena kemiskinannya orang tua merasa khawatir anaknya kelak hidup dalam kesengsaraan di tangan suaminya tersebut. Kekhawatiran akan kemiskinan inilah yang dijadikan alasan merintangi anak perempuannya memilih calon suaminya.
  2. Orang tua mendapati calon perempuannya dari kalangan rendahan atau anak orang miskin atau orang tuanya tidak terpelajar. Orang tua merasa khawatir kelak keturunannya menjadi orang bodoh atau tidak memiliki sopan santun dan tata pergaulan keluarga bangsawan. Pandangan orang tua semacam ini didasarkan pada pengalaman pribadinya bahwa bercampur baur dengan orang dari kalangan rendahan menimbulkan rasa malu dan rendah diri di lingkungan pergaulan kebangsawanan.
  3. Orang tua melihat bahwa calon menantunya seorang perempuan atau laki-laki dari keluarga yang dahulunya pernah bermusuhan dengan dirinya. Karena itu, ia merasa malu dan direndahkan harga dirinya oleh anaknya yang kini ternyata hendak menjalin ikatan suami istri dengan keluarga semacam itu.

Kasus-kasus di atas banyak kita dapati di tengah masyarakat menjadi alasan orang tua merintangi niat putra atau putrinya untuk menikah dengan pilihannya.

Adapun anak yang dirintangi niat pernikahannya oleh orang tuanya dapat mengambil sikap dengan dua jalan, yaitu sebagai berikut:
  1. Melakukan upaya pendekatan terus menerus dengan orang tuanya.
  2. Memohon kepada Allah agar diberikan jalan untuk dapat menjadikan orang tuanya berhati lunak dan kembali menerima dirinya dengan baik.

Oleh : Nur Rokhanah
Sumber: 20 Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak
Daftar Pustaka: Thalib, Muhammad. 1996. 20 Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam.


Related Posts :