Sabtu, 30 Juli 2016

Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak: Menelantarkan Pendidikan Agama Anak (5)

Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyaat (51) ayat 56 yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Maksud dari menelantarkan pendidikan agama anak ialah tidak memberikan pendidikan agama kepada anak yang seharusnya diberikan untuk mengetahui pokok-pokok ajaran agama Islam. Misalnya, mengajarkan rukun iman dan rukun Islam, akhlak sehari-hari, dan sumber pokok ajaran Islam lainnya. Hal-hal tersebut merupakan fardlu ‘ain untuk dipelajari oleh setiap orang muslim. Orang tua yang tidak mengajarkan hal-hal tersebut di atas kepada anaknya berarti telah menelantarkan pendidikan agama anak dan telah melakukan perilaku yang mendurhakai anak.

Pada QS. Adz-Dzariyaat (51) ayat 56 di atas, Allah telah menggariskan bahwa tujuan hidup setiap orang, baik orang yang beriman kepada Allah maupun orang yang kafir, adalah untuk beriman kepada-Nya.

Karena tujuan hidup semua makhluk adalah menyerahkan diri secara total untuk mentaati ajaran-ajaran Allah, dan hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan yang hendak dicapai, maka dengan sendirinya kita harus mengenal secara benar siapa Allah itu. Manusia tidak bisa mengenal Allah dengan upayanya sendiri. Karena itu, Allah mengirimkan rasul-rasul-Nya untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia tentang Allah, sifat-sifat-Nya dan ketentuan-ketentuan yang digariskan oleh-Nya untuk dijalankan oleh manusia guna memenuhi kewajiban beribadah kepada-Nya. Allah tidak akan membiarkan manusia kebingungan mencari dan mengenali-Nya, sehingga tiap-tiap manusia berpersepsi tentang diri-Nya berdasarkan subjektifitasnya.

Dalam lingkungan keluarga, tanggung jawab mengajarkan tauhid kepada anak-anak agar dapat mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya sudah tentu ada di pundak bapak dan ibu. Mendapatkan didikan tauhid dan pelajaran agama, bagi anak-anak adalah hak asasi. Karena setiap manusia harus diberi pelajaran tauhid sehingga mereka dapat mengenal secara benar Tuhan yang menjadi sesembahan yang hak dan mengikuti syariat-Nya, maka Allah mengirimkan rasul-rasul-Nya. Para rasul telah menyampaikan risalahnya kepada umat manusia pada zamannya. Kemudian umat manusia pada zamannya itu diperintahkan untuk menyampaikan ajaran-ajaran rasul bersangkutan kepada orang-orang yang tidak hadir pada zamannya.

Karena anak adalah orang yang datang berikutnya dari masa kehadiran orang tuanya, maka orang tuanya lah yang terutama bertanggung jawab memberikan pendidikan tauhid kepada putra-putrinya.

Dalam memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan agama, orang tua dapat melakukan dua cara, yaitu sebagai berikut:

1. Secara langsung

Yang dimaksud memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan agama dengan cara langsung yaitu orang tua sendiri yang mengajar dan mendidik agama anak-anaknya, baik yang bersifat pengetahuan teoritis maupun tuntunan praktis. Misalnya, pengetahuan tentang thaharah dan shalat serta praktik melakukan keduanya.

2. Secara tidak langsung

Yang dimaksud memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan agama dengan cara tidak langsung ialah dengan menyekolahkan atau menyerahkan anak tersebut kepada guru-guru agama yang dipercayai oleh orang tua guna mengajarkan seluk beluk tauhid dan ibadah kepada anaknya.

Bilamana orang tua acuh tak acuh terhadap kebutuhan dasar anak dalam pembinaan tauhid dan agama ini, maka orang tua semacam ini telah berlaku durhaka terhadap anak-anaknya.

Sumber: 20 Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak
Oleh : Nur Rokhanah


Related Posts :