Sabtu, 30 Juli 2016

Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak: Menempatkan Anak di Lingkungan Yang Rusak (6)

Allah berfirman dalam QS. Al Anfaal (8) ayat 25 yang artinya “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.”

Yang dimaksud dengan lingkungan yang rusak secara Islam ialah lingkungan yang membuat anak jauh dari agama Islam dan berperilaku bertentangan dengan agama Islam. Tegasnya, lingkungan yang rusak ialah lingkungan yang membuat anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan haram, perjudian, minum-minuman keras, ketidakjujuran, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Jadi, setiap lingkungan yang membentuk perilaku anak yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah lingkungan yang rusak.

Ayat di atas secara tegas mengancam orang-orang mukmin untuk tidak berada di lingkungan orang-orang dhalim, yaitu orang-orang yang berbuat maksiat dan mungkar. Orang mukmin yang berada di lingkungan maksiat dan mungkar niscaya akan merasakan adzab dari Allah walaupun dia sendiri tidak turut melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.

Setiap orang menginginkan diri dan dan keluarganya hidup dalam ketentraman, kebahagiaan, dan keamanan, terutama ketentraman dan keamanan bagi anak keturunannya. Orang yang beragama tidak akan senang hidup di lingkungan yang mengganggu ketentraman dirinya untuk menjalankan agamanya dengan baik. Karena itu, orang-orang yang berpikiran sehat selalu berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat menjamin ketentraman hidupnya dan kenyamanan dirinya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.

Masyarakat sekarang di mana secara luas perilakunya banyak bertentangan dengan lingkungan secara Islam memang membuat sulit orang tua untuk memilih lingkungan yang baik. Pergaulan bebas di tengah mereka sudah menjadi pola hidup sehingga gampang sekali anak-anak terjerumus ke dalam penyalahgunaan seksual. Lingkungan di mana minuman yang memabukkan mudah di dapat, rangsangan penyelewengan seks mudah di temukan karena kebebasan wanita untuk tidak berpakaian menutup aurat, perjudian, dan tempat maksiat lain yang tersebar di berbagai tempat, membuat para orang tua mengalami kesulitan untuk menemukan lingkungan yang baik. Dalam keadaan semacam ini, orang tua harus bisa memilih lingkungan yang paling minimal pengaruh buruknya terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak-anaknya. Dalam memilih lingkungan yang memiliki paling minimal tingkat kerusakan terhadap perkembangan jiwa anak-anak, haruslah dengan menitikberatkan pada pertimbangan keselamatan agama anak, bukan pada pertimbangan materi. Sebab bagi orang mukmin yang paling utama adalah meniti keridhaan Allah, bukan mengejar bertumpuknya harta kekayaan atau kemudahan-kemudahan duniawi.

Tidak jarang orang lebih suka hidup di lingkungan yang rusak agar dirinya bebas melakukan dorongan hawa nafsunya kapan saja dikehendaki.mereka tidak pernah memperdulikan kerugian agama dan nasib akhiratnya kelak. Bahkan mereka menyeret keluarganya ke tempat yang rusak, karena alergi terhadap orang-orang yang selalu mencegah kemungkarannya.

Untuk itu, ketika orang tua menyadari lingkungan yang dipilihnya keliru, hendaknya mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Pindah ke tempat lain yang lingkungannya memberikan dukungan perbaikan akhlak agama bagi anak-anaknya. Walaupun terasa berat dan mahal, tetapi upaya ini harus diambil sekiranya di tempat lama tidak ada kemungkinan memperbaiki lagi akhlak anaknya yang sudah rusak.
  2. Memindahkan anak-anaknya ke lingkungan pendidikan agama yang baik dengan harapan di tempat penitipan baru itu, akhlak mereka dapat diperbaiki dan kelak dapat tinggal di tempat baru dengan akhlak Islam yang baik.
  3. Orang tua menyatakan kesalahannya kepada anak-anaknya dan meminta maaf kepadanya karena terlanjur menempatkan mereka di lingkungan yang merusak akhlak dan perkembangan agama mereka.

Sumber: 20 perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak
Oleh : Nur Rokhanah


Related Posts :