Sabtu, 30 Juli 2016

Potret Eksistensi Lembaga Pendidikan Alternatif

Substansi pendidikan yang sesungguhnya adalah hasrat akan pencarian ilmu yang tidak terbatas. Ilmu, pada dasarnya bisa diperoleh di manapun, lewat siapapun, dan dengan cara apapun, asal ia masih berada pada koridor penerjemahan yang tepat. Meluapnya ketidakpuasan masyarakat akan kondisi lembaga pendidikan formal yang masih jauh dari harapan, mendorong munculnya metode pendidikan lain yang sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang, yaitu lembaga pendidikan alternatif. Metode pendidikan seperti ini dapat dikatakan ada sebagai antitesis dari fenomena komersialisasi pendidikan. Di sini, pendidik tidak lagi menjadi orang yang serba tahu di dalam kelas, tetapi justru menjadi fasilitator bagi murid. Pendidik tidak lagi menjadi subjek tunggal dalam proses pendidikan, tetapi murid juga diposisikan sebagai subjek pendidikan. Selain mengubah metode pembelajarannya, model pendidikan alternatif juga menekankan pada substansi pendidikan yang sebenarnya. Persaingan yang terjadi bukan lagi terfokus pada penilaian akreditasi lembaga pendidikan, tetapi terfokus kepada persaingan untuk mendidik murid mereka agar menjadi kritis dan kreatif.

Sanggar Anak Akar. Pada 1994 adalah satu dari sekian lembaga pendidikan alternatif yang menyebar secara meluas di Indonesia. Sanggar ini didirikan oleh Ibe Karyanto – yang saat ini lebih dikenal sebagai rektor sanggar – pada saat ia masih menjadi pengurus bagian advokasi anak di Institut Sosial Jakarta (ISJ). Berawal dari konsep ‘tempat ngumpul dan sharing’ bagi masyarakat – terutama anak-anak – yang merasa terganggu haknya, pada 2009 Sanggar Anak Akar tidak lagi menyebut dirinya ‘rumah singgah’. Sebutan ‘sekolah alternatif’ pada akhirnya disandangkan, diikuti dengan bentukan kurikulum yang mereka kembangkan sendiri.

“Saat ini ada dua kelas yang kita punya, yaitu kelas reflektif dan kelas kreatif. Kelas reflektif mengajarkan teori-teori dasar yang mau tidak mau memang dibutuhkan oleh anak-anak, seperti bahasa inggris, bahasa indonesia, sastra, jurnalistik, sains, matematika, dan teori musik. Sementara kelas kreatif ada sebagai penyeimbang kelas teori, yaitu mengajarkan keterampilan bermusik, lalu ada kelas multimedia dan lukis patung di sore hari,” tutur Dini, selaku salah satu pengurus senior Sanggar Anak Akar.

Ironis memang saat pengetahuan kemudian diibaratkan sebagai komoditi yang memiliki kualitas tertentu, padahal nilai-nilai pembelajaran itu berhak didapatkan di mana saja dan dengan cara apapun. Dengan bernyanyi, seorang individu belajar mencintai seni. Dengan menggambar, individu belajar merealisasikan dunia sekitarnya. Dengan menulis, individu belajar mengerti dunia dari segala sudut pandang. Dengan menari, individu belajar memaknai nilai-nilai yang tersembunyi di balik gerakan tubuh. Dengan bermain, individu belajar bersosialisasi, bekerjasama, bersikap sportif dalam menerima kekalahan. Dengan belajar tentang hidup, individu belajar untuk hidup.

Lembaga pendidikan alternatif seperti Sanggar Anak Akar paham betul akan hal tersebut. Inilah mengapa, dengan biaya sangat terjangkau, setiap orang yang memiliki keinginan untuk belajar, diberikan tempat untuk mengembangkan diri sesuai dengan porsinya masing-masing di sini. Salah satu dari sekitar 20 murid yang masih bertahan di Sanggar Anak Akar saat ini, adalah Putri. Gadis berusia 17 tahun ini adalah salah satu Anak Akar yang memilih meninggalkan sekolah formalnya, dan bergabung dengan kehidupan sanggar.

“Bedanya kalau dari sisi pengajar, gurunya mengajarnya ikhlas. Murid-muridnya juga jadinya terimanya ikhlas. Cara belajar mengajarnya lancar. Kalau di sekolah formal, masuk-masuk gurunya nerangin. Nerangin yang ada di LKS (lembar kerja siswa) diterangin lagi. Terus suruh kerjain halaman segini, kalau belum selesai buat PR. Begitu terus, saya ngerasa nggak berkembang,” ungkap Putri ketika reporter Sembilan mempertanyakan alasannya meninggalkan sekolah formal demi belajar di sanggar.

Pendapat Putri ini berjalan seiring dengan pandangan Kasdin. Bagi Kasdin, dunia pendidikan menjadi tempat bagi setiap individu untuk membentuk dirinya. Pembentukan diri ini hanya terjadi tentunya kalau orang diakui sebagai subjek. Pembentukan diri sesungguhnya tidak terjadi melalui perintah-perintah atau larangan-larangan, melainkan melalui pemberian kesempatan yang luas baik setiap peserta didik untuk berkreasi dan mengungkapkan potensi-potensinya. Oleh karena itu kalau ada peserta didik mempunyai bakat-bakat yang istimewa, bakat-bakat ini perlu diberi tempat. Dengan kata lain, potensi-potensi peserta didik yang berbeda-beda seharusnya mendapat ruang untuk bertumbuh dan berkembang dalam dunia pendidikan. Lebih lanjut lagi, menurut Kasdin, hal-hal seperti ini tidak tepat kalau hanya dimasukkan sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler, tetapi seharusnya dijadikan sebagai bagian penting dari kurikulum. Dengan inilah anak-anak diarahkan untuk mengenal dirinya. Pengenalan potensi diri ini diharapkan dapat menjadi modal yang sangat berharga bagi masa depan anak.

Tidak banyak memang yang bisa diharapkan dari mengelola sebuah lembaga pendidikan alternatif. Selain minim profit, kurangnya dukungan dari pemerintah terkadang mempersulit gerak dan kinerja lembaga-lembaga seperti ini. Ketulusan dan semangat untuk melihat putra-putri bangsa berkembang di jalur yang tepat, mungkin itulah yang menjadi satu-satunya motivasi Sanggar Anak Akar, dan lembaga-lembaga pendidikan alternatif serupa untuk tetap menghidupi orang lain, dan dirinya sendiri.

Oleh : Maria Miracellia


Related Posts :