Sabtu, 30 Juli 2016

Rumus Penunjang Kebiasaan Membaca Alqur’an untuk Anak Usia Dini

Orang tua mana sih yang tidak senang jika melihat anaknya bisa membaca alqur’an ? syukur-syukur kecil-kecil sudah hafal alqur’an… hmm… membanggakan bukan punya anak seperti itu ? bangga dunia, bangga juga di akhirat.

Tahukah anda bahwa mempunyai mimpi untuk menjadikan putra putri sebagai seorang hafidz atau hafidzah ini bisa direncanakan sejak awal, mulai ketika seorang Ibu itu sedang mengandung. Anda bisa menciptakan suatu kondisi untuk menunjang kebiasaan anak untuk membaca alqur’an, dekat dengan alqur’an, terlebih lagi bisa menghafalkan alqur’an.

Kebiasaan membaca ini bisa mulai ditanamkan ketika anak masih berada di dalam kandungan yaitu usia kehamilan tiga bulan. Orang tua baik Bapak atau Ibu bisa memperdengarkan si buah hati pada lantunan ayat-ayat suci alqur’an. Lebih-lebih orang tuanya membacakan langsung ayat-ayat alqur’an, bukan memperdengarkan lewat rekaman atau kaset. Seringnya orang tua membacakan ayat-ayat alqur’an atau memperdengarkan bacaan alqur’an akan memengaruhi perkembangan otak anak. Selain itu, juga akan melatih sang janin mengenali suara orang tuanya sehingga akan terjalin ikatan batin yang lebih dalam lagi antara orang tua dan anak.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menunjang kebiasaan anak dalam membaca alqur’an. Faktor tersebut disingkat dengan istilah “RUMUS ABCD”. Apa itu “RUMUS ABCD” ? RUMUS ABCD merupakan suatu tehnik yang dilakukan seseorang agar anak mampu menjadikan kegiatan membaca alqur’an sebagai suatu kebiasaan dan konsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

R (Rumah) = rumah ini merupakan pusat pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar. Dari lingkungan rumah atau keluarga inilah anak mendapatkan pendidikan pertama dari orang tuanya.
U (Usaha ) = maksud usaha ini adalah butuh suatu usaha dan kerja keras untuk mendapatkan suatu ilmu. Tidak secara instan dan langsung bisa, semuanya membutuhkan proses untuk menjadi bisa. Membutuhkan suatu kerja keras, pantang menyerah dari seorang anak untuk bisa belajar Alquran. Ini juga harus dibarengi usaha dari orang tua, tidak hanya dari anak semata. Sebisa mungkin orang tua juga harus mendukung, memfasilitasi dan membantu anak dalam belajar.
M (Metodis) = metode yang pas, cocok dan tepat sasaran akan sangat membantu anak dalam mempercepat proses belajarnya. Orang tua atau guru bisa mencoba berbagai metode belajar Alquran yang sesuai dengan karakteristik anak. Sehingga anak merasa nyaman dalam belajar dan tidak merasa tertekan bahkan terbebani. Karena setiap anak mempunyai karakteristik masing-masing dan mempunyai gaya belajar yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
U (Upah ) = berilah upah setiap usaha dan prestasi anak. Hargailah setiap usaha yang telah mereka lakukan. Upah di sini bukan berarti harus memberi uang lho ya… upah di sini bisa berupa pujian, sanjungan, pelukan, ciuman. So tidak harus berupa uang atau fisik barang. Mengajak anak liburan juga bisa membuat anak merasa dihargai dan dapat memotivasi anak untuk lebih giat lagi dalam belajar. Boleh sekali –kali memberi hadiah. Pada intinya hargailah setiap usaha anak!!!
S (Sabar) = orang tua harus bersikap sabar terhadap tingkah laku anak. Sebisa mungkin orang tua menghindari untuk berkata-kata yang dapat membuat anak jadi rendah diri, tidak percaya diri, menurunkan moodnya dan lain-lain. Jangan mengatai anak, memarahi, mengejek ataupun menghina jika sang anak belum bisa atau belum mampu menguasai secara baik. Jangan memukul, mencubit, menjewer karena ini akan memengaruhi psikologi anak dan anak akan merasa tertekan. Bersikaplah ekstra sabar terhadap anak karena ini merupakan proses belajar.
A (Ajeg ) = mengajari anak sejak usia dini berbeda dengan mengajar anak yang sudah mulai beranjak remaja ataupun dewasa. Mengajari anak usia dini yang mana notabenenya masih tergolong the golden period age membutuhkan peran aktif dan rangsangan dari orang tua dalam porsi yang lebih banyak. Maka dari itu berilah stimulus pada anak secara konstan, terus menerus (Ajeg ) meski stimulus itu diberikan dalam waktu sebentar. Misal hanya dalam waktu 5 menit tapi dilakukan setiap hari.
B (Bermain ) = nah..ini dia nih yang penting. Namanya juga membiasakan anak membaca Alquran sejak dini.. berarti tak bisa lepas dari dunia bermain karena ini merupakan dunia mereka. Jadi orang tua bisa memberikan stimulasi dengan cara bermain. Istilahnya belajar sambil bermain. Tidak monoton dengan proses yang sangat kaku dan formal. Anda bisa mengajak bermain dan bersenda gurau diselingi dengan membacakan ayat-ayat Alquran.
C (Contoh ) = teladan dari orang tua….bagaimanapun yang namanya anak pasti mencontoh tingkah laku orang tuanya. Apalagi bagi mereka yang masih kecil, proses belajarnya ya memang mencontoh dari orang tuanya . kalau orang tuanya sering membaca Alquran, insyaallah anak akan mengikuti kebiasaan baik orang tuanya itu. Berbeda dengan tidak memberikan contoh dan hanya menyuruh. Hal ini tidak akan efektif untuk anak. Cara efektif untuk mengajari anak adalah dengan cara memberi teladan yang baik.
D (Doa ) = manusia hanya mampu berusaha dan berdoa dan Tuhanlah yang menentukan. Apapun itu, wilayah manusia hanya pada ranah usaha dan doa. Sekeras apapun anda berusaha, sebesar apapun anda berdoa, Tuhanlah yang akan tetap menentukan hasil akhirnya. Setelah semua usaha yang anda lakukan untuk mengajari dan mendidik putra putri anda, janganlah lupa berdoa untuk kemudahan dan kesuksesan sang buah hati.


Oleh : Roiza Fa


Related Posts :