Sabtu, 30 Juli 2016

Surganya anak di bawah kaki ibu

Seorang wanita yang membawa beban berat di dalam dirinya selama sembilan bulan yang mungkin dirasakannya bagaikan sembilan tahun lamanya, dan rela berkorban mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak yang dikandungnya, yang sepanjang waktu tanpa mengenal lelah, baik itu pagi, siang, maupun malam, selalu merawat dan menjaga anaknya, memberikan asi dan asupan gizi yang baik untuk anaknya dan seringkali tak memikirkan dirinya sendiri. Wanita ini adalah wanita yang aku sebut sebagai malaikatku, pahlawanku, wanita yang selalu aku panggil-panggil dengan sebutan “IBU”.

Sebagai seorang anak, kita diwajibkan untuk selalu berbakti dan patuh kepada kedua orang tua, terutama kepada seorang Ibu. Dan selalulah berbuat baik kepada seorang Ibu, karena berbuat baik kepada Ibu adalah perbuatan yang sangat agung dan sangat di cintai oleh Allah swt, perbuatan amal shaleh yang bermanfaat untuk menghapus dosa-dosa sehingga dapat mengantarkan (jalan) kita menuju indahnya surga.

Di mana Allah swt telah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orangtua kita dalam QS. Luqman ayat 14. Yang artinya “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Dari ayat di atas sangat jelas bahwa kita sebagai seorang anak di wajibkan untuk berbakti kepada Ibu, karena perjuangan seorang Ibu untuk anaknya sangat berat, yaitu perjuangan Ibu saat mengandung, melahirkan dan menyusui. Oleh sebab itu, berbuat baik kepada Ibu tiga kali lebih besar dibandingkan kepada ayah. Sebagaimana di kemukakan dalam sebuah hadist: Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw. Bersabda “wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Nabi saw. Menjawab “ Ibumu!”. Dan orang tersebut kembali bertanya “kemudian siapa lagi?” Nabi saw. Menjawab “Ibumu!”. Orang tersebut bertanya kembali “ kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab “Ibumu!”. Orang tersebut bertanya kembali “kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab “kemudian Ayahmu”. (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no.2548)

Perintah berbakti kepada orangtua sudah sangat jelas bagi kita. Lawan dari berbakti adalah durhaka. Sebagai seorang anak janganlah sekali-kali kita durhaka kepada seorang Ibu, ingatlah bahwa surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Apalagi sampai mengatakan kata “Ah” dan memperlakukannya dengan kasar, karena itu termasuk dosa besar dan diharamkan yang sangat di benci oleh Allah swt. Sebagaimana sepenggal hadist Rasulullah saw, yang artinya “Sesungguhnya Allah swt mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian,...” (HR. Bukhari no.1407 dan Muslim no.593)

Sudah pantas dan sudah sepatutnya apabila seorang Ibu mendapat penghargaan dengan adanya “Hari Ibu”. Di mana hari Ibu ini adalah hari untuk memperingati peran seorang Ibu, hari di mana banyak anak-anak yang mengungkapkan rasa cinta, dan kasih sayang kepada Ibunya. Hari Ibu selalu di peringati di seluruh negara, namun setiap negara berbeda-beda hari dalam memperingati hari Ibu, walau ada beberapa negara yang sama. Di Indonesia sendiri memperingati hari Ibu diselenggarakan atau di peringati pada tanggal 22 Desember. Yang di resmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekrit Presiden No. 316 Tahun. 1953. Bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.

Tetapi, janganlah kita memberikan hadiah atau mengungkapkan rasa cinta, dan kasih sayang kepada Ibu pada saat hari Ibu saja. Melainkan setiap hari kita harus mengungkapkan rasa itu kepada Ibu kita dan tidak lupa untuk selalu mendoakan nya. Karena hal itulah yang dapat kita berikan kepada Ibu kita untuk membalas jasa-jasanya pada kita, walau tak seberapa dan tak seutuhnya kita dapat membalasnya, karena jasa seorang Ibu tak dapat di ganti, dibayar, atau di balas oleh apapun.

Oleh : Sri Ayu Agustina


Related Posts :