Sabtu, 30 Juli 2016

Tips Mencegah Tindakan Kekerasan Terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orangtua sendiri semakin sering terjadi di Indonesia. Saat ini tingginya kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak, menjadi kasus besar kekerasan yang diterima anak. Dari data yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 87 persen kasus kekerasan pada anak dilakukan di rumah tangga. Nasib anak-anak itu ada yang berakhir dengan kematian tragis.

Psikolog Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) di Batam Mariana dalam sebuah wawancara mengatakan kepada penulis beberapa waktu lalu, banyak faktor yang menyebabkan orangtua hilang kendali, melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya. Masalah yang mendera membuat orangtua tertekan, entah itu masalah dengan pasangan, keluarga, ekonomi, maupun masalah pribadi lainnya.

Mariana menyarankan kepada orangtua ketika mereka sedang dalam keadaan emosi, menghindarlah. Jangan selesaikan masalah dalam keadaan emosi. Redakan dulu emosi, hindari istri atau suami atau anak sembari mencari solusi. Mariana menyarankan agar mencari pihak ketiga dalam kondisi seperti itu. Orang ketiga itu boleh jadi teman, anggota keluarga lain, pemuka agama, atau psikolog.

Namun Mariana menegaskan, masalah ekonomi bukanlah penyebab utama. Masalah ekonomi juga bukan merupakan faktor yang mendominasi kejadian kekerasan oleh orangtua terhadap anak. Menurutnya, orangtua dengan perekonomian yang mapan atau bahkan berlebih sekalipun bisa saja melakukan kekerasan terhadap anak.

Mariana menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian yang pernah ia ketahui, 30% pelaku kekerasan pernah mengalami hal sama. Ia pernah diperlakukan serupa, mengalami kekerasan, oleh orang tua maupun keluarga lainnya. Meskipun sebagian orang yang pernah mengalami kekerasan akan berempati pada yang lain agar tidak mengalami hal buruk yang pernah dialaminya, sebagian lainnya justru meniru dan mengulang. Misalnya jika ia pernah dihukum dengan dipukul kakinya, ia akan memperlakukan anaknya dengan cara yang sama, menghukum anak dengan memukul kakinya.

Mariana berpendapat, terkadang orangtua menghukum fisik anak sebagai cara pendisiplinan. Mereka berpikir sedang mendidik tanpa mereka sadari bahwa yang dilakukan adalah kekerasan. Mariana tidak menganjurkan hukuman fisik pada anak. Menurutnya, itu tidak akan membuat anak lebih baik. Alih-alih justru anak akan terbiasa dengan hukuman.

Mariana lebih menganjurkan konsekuensi sebagai pertanggungjawaban. Beritahu anak sejak awal, misalkan bermain game komputer. Sepakati waktu dan durasi. Buat konsesi jika menaati aturan apakah yang akan didapatkan anak dan bila melanggar kesepakatan hal apakah yang harus dilakukan.

Mariana menambahkan, tingkat pendidikan juga tidak menjadi penentu sikap kekerasan orangtua terhadap anak. Menurutnya, beberapa pelaku kekerasan terhadap anak juga memiliki latar pendidikan yang memadai.

Fakta yang mengejutkan dibeberkan Mariana. Data yang ia dapatkan dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan, lebih dari 60% pelaku kekerasan terhadap anak adalah ibu sedangkan ayah hanya sekitar 30%. Hal ini karena ibu merupakan sosok yang lebih dekat dengan anak. Dalam kondisi rentan, ibu bisa melampiaskan terhadap orang terdekat yaitu anak.

Oleh : Nurullius Sartika Ningrum


Related Posts :