Sabtu, 30 Juli 2016

Waspada seksual anak

Mendengar berbagai berita tentang kekerasan seksual pada anak di bawah umur yang belakangan ini banyak mencuat di media massa, tentunya menjadikan para orangtua merasa takut dan was-was. Terlebih kekerasan seksual tersebut justru kerap terjadi di lingkungan terdekat anak, seperti; sekolah dan keluarga. Apalagi dampak terhadap korban pelecehan seksual bukan hanya akan diderita secara fisik, seperti; tertularnya penyakit kelamin. Bahkan mungkin juga secara psikis, anak membutuhkan terapi dalam jangka waktu yang tidak sebentar untuk mengurangi traumatik yang dialami serta menghindarkannya dari rasa takut terhadap hubungan seksual setelah ia dewasa dan menikah.

Dan Ironisnya, grafik dari kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak selalu naik dari tahun ke tahun. Bukan hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan juga hampir di seluruh negara di dunia. Parahnya problematika pelik ini seolah merupakan bagian parsial yang hanya menjadi beban bagi keluarga korban semata. Padahal anak-anak merupakan generasi bangsa yang butuh diperjuangkan hak-haknya. Merekalah yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan sebuah negara. Dan menentukan bagaimana nasib bangsa ke depan. Namun sepertinya pemerintah tidak sigap dan peka terhadap problem sosial yang menyita perhatian publik ini. Bahkan seolah-olah hukuman penjara bagi para pelaku kekerasan seksual dianggap sudah yang paling efektif. Tanpa ditelaah lebih jauh tentang bagaimana jika pelaku-pelaku itu keluar nantinya dari penjara setelah masa hukuman berakhir dan bisa saja mereka akan kembali melakukan aksi bejatnya. Karena nyata-nyata banyak penjahat yang tidak merasa jera dengan hukuman penjara saja.

Yang lebih mengejutkan, kasus pelecehan seksual terhadap anak sudah lama terjadi puluhan tahun silam. Namun baru setelah kasus pelecehan seksual yang melibatkan sekolah bertaraf internasional mencuat, dunia menjadi geger dan hampir semua orang mulai sibuk membahasnya. Mulai dari berbagai forum yang digelar dengan mendatangkan para praktisi hukum, dokter, psikiater, aktivis ham, pemerhati anak, NGO, dan seterusnya. Bahkan tak ketinggalan, berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik turut latah karenanya, serta menganggap hal ini sebagai hot issue yang sayang untuk dilewatkan. Seakan-akan semua orang telah menutup mata dan telinga terhadap kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak jalanan yang hampir setiap hari terjadi. Sementara mereka tidak mempunyai uang untuk membayar pengacara, menuntut pelaku kejahatan, dan membuka suara tentang pelanggaran hukum yang telah mengebiri mereka selama ini.

Dan jika persoalan pelecehan seksual telah menggelinding bagai bola salju yang terus membesar dan melibatkan banyak anak Indonesia yang menjadi korban, lantas bagaimana negara melibatkan diri dan hadir untuk memecahkan problematika kerakyatan bangsa Indonesia? Nampaknya PR besar bagi bangsa ini belum usai benar, lantaran banyak elite politik dan pejabat negaranya yang sibuk sendiri karena memperebutkan kursi pemerintahan. Anehnya lagi, tanpa perasaan enggan ataupun canggung mereka berkoar-koar sebagai pemimpin yang amanah dalam kampanye partai politik agar dipilih sebagai wakil rakyat. Dan hal-hal kontras ini sepertinya akan tetap menjadi pemandangan yang lazim terlihat hingga menjelang pemilihan presiden (pilpres 2014). Lalu kapan kita mampu menjadi bangsa yang tidak melahirkan pemimpin kerdil yang sibuk memikirkan isi perut dan kantongnya sendiri? Sepertinya kita butuh tokoh-tokoh fantasi anak yang benar-benar hadir di dunia nyata, seperti superman, spiderman, dan robinhood agar anak Indonesia tetap menjadi prioritas. Karena dari tangan merekalah nanti Indonesia menjadi negara yang maju dan bisa bersaing dengan negara lainnya.

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :