Selasa, 24 Januari 2017

Dampak Buruk Melakukan Kekerasan Fisik pada Anak

Bagi sebagian orang tua, melakukan kekerasan fisik terhadap anak menjadi hal yang wajar. Terlebih, bila perilaku anak membuat orang tua begitu jengkel. Contoh kekerasan fisik yang umumnya dilakukan orang tua kepada anak misalnya memukul, menendang, ataupun menampar.

Padahal, melakukan kekerasan fisik sebenarnya sangat berdampak buruk bagi perkembangan jiwa anak. Karenanya, bila akan melakukan kekerasan fisik, kita sebaiknya menahan diri untuk tak melakukannya. Ada baiknya bila kita menasehatinya saja tanpa melakukan kekerasan fisik. Lalu, apa saja dampak buruk melakukan kekerasan fisik pada anak? Berikut dampak-dampak buruk melakukan kekerasan fisik terhadap perkembangan jiwa anak.


Gambar 1. Melakukan Kekerasan Fisik Sangat Berdampak Buruk Bagi Perkembangan Jiwa Anak.

Mengakibatkan Menurunnya Kemampuan Berempati dan Kemampuan Bersosialiasi
Bersumber dari situs Childwelfare (childwelfare.com), melakukan kekerasan fisik terhadap anak mengakibatkan menurunnya kemampuan anak untuk berempati dan bersosialisasi. Terlebih, bila anak sering mengalami kekerasan fisik. Lalu, apa dampak menurunnnya kemampuan berempati dan bersosialisasi pada perkembangan anak? Menurunnya kemampuan berempati biasanya mengakibatkan anak akan cenderung bersikap egois. Bisa saja, sikap ini akan terbawa saat anak menginjak usia dewasa. Sedangkan dampak menurunnya kemampuan bersosialisasi yaitu anak akan cenderung bersikap introvert(tertutup), menarik diri dari lingkungan, sulit membina hubungan sosial, sulit bekerja sama dengan orang lain, dan sebagainya.

Berisiko Mengakibatkan Mengalami Gangguan Mental Saat Anak Berusia Dewasa
Menurut Lawson, peneliti psikologi anak, melakukan kekerasan fisik terhadap anak berisiko mengakibatkan anak mengalami gangguan mental saat usia dewasa. Beberapa contoh gangguan mental yang sering dialami orang dewasa diantaranya bipolar disorder, anti sosial, schizophrenia, dan paranoid. Karena mengalami gangguan mental, tak tertutup kemungkinan perilaku anak akan ‘menyimpang’. Misalnya, menyukai sesama jenis, bersikap destruktif, mengkonsumsi obat-obat terlarang, menyendiri, ataupun senang mengambil barang milik orang lain. Nah, agar anak kita tak mengalaminya, sekali lagi kita sebaiknya menahan diri untuk tak melakukan kekerasan fisik.

Berisiko Juga Menjadi Orang Tua yang Kejam
Saat anak mengalami kekerasan fisik, terlebih bila sering, secara psikologis akan meninggalkan trauma bagi anak. Bisa saja, trauma ini akan terus terbawa saat anak memasuki usia dewasa. Bila trauma ini terus menghantui, saat anak menjadi orang tua, tak tertutup kemungkinan akan melampiaskan kekerasan fisik yang dialaminya saat masa kecil kepada anaknya sendiri. Padahal, anak merupakan mahluk tak berdosa yang mesti dididik sebaik mungkin.

Demikianlah, dampak-dampak buruk melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Kesimpulannya, menahan diri untuk tak melakukan kekerasan fisik sebenarnya menjadi ‘investasi’ penting bagi anak kita.. Karenanya, sekali lagi, kita sebagai orang tua yang menginginkan anak kita meraih kesuksesan kelak, kita sebaiknya menahan diri untuk tak melakukan kekerasan fisik saat hendak melakukannya. Marilah mendidik anak sebaik mungkin...

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber gambar:
1 http://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2015/05/18/170/1002374/pasutri-penelantar-anak-terancam-lima-tahun-bui-9GJ.jpg


Related Posts :