Kamis, 14 September 2017

Kontrol Ada Pada Orang Dewasa

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@puncakbukit/kontrol-ada-pada-orang-dewasa

Pada akhir tahun lalu dan di awal tahun ini, KPI atau Komisi Penyiaran Indonesia kembali mengingatkan dan memanggil salah satu stasiun televisi swasta yang erat terkait dengan banyaknya pengaduan dari masyarakat terhadap acara tentang mencari kontes bakat anak-anak. Rekaman hasil diskusi tersebut selanjutnya dilaporkan dalam situs resmi KPI (www.kpi.go.id) di mana diharapkan penonton dari berbagai pihak dapat melihat secara langsung tentang beberapa anak–anak yang berbakat di bidang seni dan budaya pada suatu daerah. Mereka dengan antusias menari dan menyanyi mengenakan hot pants, selendang bulu berwarna–warni dan goyangan yang sensual tetapi lucu dan menggemaskan.

“ Rasanya seperti melihat miniatur wanita dewasa. Lagipula, apakah tidak terlintas di benak pihak penyiar dan orang tua, bahwa hal ini membuat anak-anak yang polos ini rentan menjadi korban pedofil ? ” menurut pendapat Nina Mutmainnah Armando, Pengamat Media Dan Aktivis Perlindungan Anak di beberapa media yang juga merupakan aktivis perlindungan anak melalui media. Beliau juga menyesalkan tentang adanya beberapa insiden penayangan anak–anak yang secara tak sengaja melakukan sesuatu yang membuat mereka merasa malu, di mana melalui tayangan tersebut, sepertinya kamera dengan sengaja mengekspos kekurangan dari si anak, mengingat ini bukanlah tayangan live, maka seharusnya dilakukan editing yang pas, rekaman kejadian tak terduga yang dialami oleh mereka bisa disajikan melalui cara yang lebih halus.

Father, Son, Hammock, Boy, Child, Family, Happy

Sebab, kejadian–kejadian kecil tersebut di atas justru bisa memberikan dampak psikologis buruk bagi anak-anak. Mereka dalam pergaulan bisa menjadi sasaran olok-olok bahkan korban bully. Nina mengingatkan, anak-anak peserta ajang bakat tersebut di atas yang berusia 3 hingga 10 tahun sebenarnya belum mampu melindungi dirinya sendiri tanpa mendapatkan bimbingan dari para orang tua. Mereka belum mampu menimbang apalagi mengambil sebuah keputusan. Maka dari itu, orang-orang dewasa di sekitarnya terutama para orang tua dan pihak penyiar, seharusnya menjadi pelindung bagi hak dan kepentingan anak-anak itu.

Selanjutnya, Nina menyetujui upaya diskusi bersama pihak media yang akan melibatkan beberapa pihak, seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dan oleh masyarakat luas ditanggapi baik. “ Saya melihat sekarang ini sudah banyak kemajuan. Mereka bersedia untuk tidak memakai lagu-lagu orang dewasa dinyanyikan anak-anak. Pakaian atau kostum anak juga tidak lagi buka-bukaan. Dari komentar-komentar juri, saya juga melihat perbaikan, dengan masukan-masukan yang membangun rasa percaya diri anak, ” jelas Nina.

“ Apa pun istilahnya, stars search atau talent show, ada banyak anak-anak di sana. Ada banyak hal yang mengkhawatirkan. Kami khawatir anak-anak yang tampil di sana tidak terlindungi, ” lanjut Nina lebih memperhatikan. Kekhawatiran yang dimaksudkan di atas telah diamati oleh pihak–pihak terkait dari sekian tahun pengamatan dilakukan terhadap berbagai acara talent show yang secara langsung melibatkan anak-anak. Mulai dari isu memaksa anak bekerja di luar batas waktu kewajaran, penampilan dan polah tingkah anak yang dewasa di usia dini dan dianggap tidak wajar sesuai usia, hingga dampaknya terhadap anak-anak lain yang juga menonton dan memfavoritkan acara ini.

Nina mencontohkan beberapa bocah laki-laki peserta kontes Indonesia Mencari Bakat (2010) yang lalu, mereka masih berusia 8 tahun. Acara live yang padat oleh iklan ini, tayang dalam durasi yang cukup panjang yaitu dari pukul 8 malam sampai tengah malam. Dalam sebuah acara sahur di sebuah stasiun TV yang lain baru-baru ini, Nina juga menyaksikan beberapa bocah perempuan ‘lulusan’ acara talent show anak sebagai bintang tamu. Di mana tepat di saat teman-teman sebayanya sedang terlelap di tempat tidur, anak-anak ini sudah harus bangun dan siap melakukan berbagai persiapan syuting sambil menjaga diri agar mereka tetap terlihat ceria di hadapan kamera. “ Karena acara live, mau tidak mau anak dituntut tampil sempurna, karena tidak akan ada pengulangan. Mereka sudah dikondisikan sebagai pekerja profesional dalam usia yang masih sangat dini. Tepatkah yang seperti ini ? ” ujar Nina, melontarkan pertanyaan oratoris. Maka dari itu, peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang praktik seperti ini terulang berkali–kali, seperti tercatat dalam Pasal 15 Standar Program Siaran 2012 (SPS 2012) Bab X tentang Perlindungan Kepada Anak. Di ayat ke-4 disebutkan dengan jelas bahwa program siaran langsung yang melibatkan anak-anak dilarang disiarkan melewati pukul 21.30 WIB waktu setempat. Tujuan dibuatnya peraturan ini adalah untuk membatasi agar anak-anak tidak tampil terlalu larut sekaligus memberikan perlindungan terhadap para penonton anak-anak yang karena ingin menyaksikan idolanya di layar kaca, secara tak sengaja juga menonton iklan rokok yang biasanya mulai tayang di atas pukul 21:30.

Melihat ulasan singkat dari kami tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa control terhadap anak–anak seharusnya ada pada orang tua dan orang dewasa di sekitarnya sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat secara jasmani dan rohani.

Penulis : Kadek Nila Utami
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi tulisan: http://www.femina.co.id/

Referensi gambar: https://pixabay.com/en/father-son-hammock-boy-child-1633655/


Related Posts :