Kamis, 11 Januari 2018

Mengatasi Anak yang Mulai Berbohong

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@puncakbukit/mengatasi-anak-yang-mulai-berbohong

Sebagai orang tua, sangat penting menanamkan kejujuran kepada sang anak sejak usia dini. Namun, tak dapat dipungkiri, terkadang anak berbohong. Bila sang terbiasa mulai berbohong hal-hal kecil, tak tertutup kemungkinan, sang anak akan terbiasa berbohong hal-hal besar saat berusia dewasa. Sesuatu yang besar memang bermula dari sesuatu yang kecil. Sebagai hal penting, anak mulai berbohong sejak usia 3 tahun. Lalu, bagaimana memahami dan mengatasi anak yang berbohong? Berikut beberapa tips memahami dan mengatasi anak yang berbohong.


Gambar 1. Bagaimana Agar Anak Tak Berbohong?

‘Memuji’ Kebohongan Anak.
Saat kita merasa anak mulai membohongi kita, kita balas dengan memuji kebohongan anak. Ambil contoh, kita yakin bahwa sang anak memecahkan piring. Sang anak lalu menutupinya dengan dengan mengarang cerita bahwa piring pecah karena tersenggol kucing. Padahal, kita paham tak ada seekor kucing pun di depan rumah kita. Setelah anak mengarang cerita tersebut, kita balas dengan memuji kebohongannya. Misalnya, mengatakan bahwa cerita tersebut begitu menarik sehingga layak menjadi cerita novel. Merespon kebohongan anak dengan cara tersebut, secara psikologis membuat sang anak merasa bersalah. Karenanya, membuat sang anak akan berkata jujur. Bila kita senang bercanda, balas kebohongan anak dengan candaan.

Hindari Mengatakan ‘Kamu Berbohong’ Kepada Anak.
Ambil contoh, sang anak menyenggol gelas susu yang berada di meja hingga tumpah. Lalu, sang anak menutupi kebohongannya dengan berpura-pura tak tahu. Kita tak perlu langsung mengatakan ‘kamu berbohong’ kepada anak. Kita bersihkan genangan susu hingga bersih. Mintalah bantuan anak untuk membersihkannya. Nah, dengan menerapkan cara ini, secara psikologis sang anak akan terdorong untuk berkata jujur.

Dorong Sang Anak Untuk Berkata Jujur.
Salah satu penyebab anak berbohong yaitu tak ingin mendapatkan hukuman ataupun cemoohan dari orang tua. Terkadang, anak merasa demikian hingga mesti berbohong. Nah, agar anak berkata jujur tanpa merasa akan mendapatkan hukuman ataupun cemoohan, kita katakan ‘Papa senang kamu berkata jujur dan tak akan menghukummu’. Dengan mengatakannya, sang anak akan terdorong untuk berkata jujur ada adanya.

Berbohong Karena Ingin Merasa Hebat dan Lebih Diperhatikan.
Ambil contoh, sang anak tak mampu menyelesaikan seluruh soal pekerjaan rumah. Lalu, ia meminta bantuan kakaknya untuk menyelesaikannya. Karena anak ingin merasa hebat dan lebih diperhatikan, ia menunjukkan bahwa Ia mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut. Padahal, kakaknya yang sesungguhnya menyelesaikannya. Nah, untuk menghindari hal tersebut, kita hargai kemampuan sang anak. Misalnya, mengatakan ‘Papa sudah cukup senang kamu mampu menyelesaikan soal pekerjaan rumah, meskipun tak semuanya’.

Ceritakan Dongeng Bertema Kejujuran yang Menarik.
Ada banyak dongeng ataupun cerita yang menceritakan manfaat kejujuran. Baik cerita lokal maupun cerita yang berasal dari luar negeri. Misalnya, cerita Pinokio. Dengan menceritakan dongeng tersebut sejak anak berusia dini, secara psikologis akan menanamkan kejujuran di dalam jiwa sang anak. Sang anak pun akan berusaha agar tak berbohong.

Tegaskan Berulang-Ulang Bahwa Berbohong Merupakan Hal yang Tak Baik.
Dalam masa perkembangan anak, anak memang kurang memahami hal yang bak dan hal yang tak baik. Termasuk memahami apakah berbohong termasuk hal yang baik ataukah hal yang kurang baik. Nah, tegaskan kepada anak berulang-ulang kali bahwa berbohong merupakan hal yang tak baik. Tegaskan juga bahwa bila anak berbohong akan mendapat hukuman.

Demikian, beberapa tips memahami dan mengatasi anak yang berbohong. Kesimpulannya, hal tersebut sangat penting dalam pendidikan anak.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
http://raisingchildren.net.au/articles/lies.html

Sumber Gambar:
1. http://maxpixel.freegreatpicture.com/Dad-Father-Son-Child-Kid-Parent-Boy-2197186


Related Posts :