Jumat, 16 November 2018

Tidak Hanya Fisik Anak, Jangan Lukai Psikis Anak Juga

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/tidak-hanya-fisik-anak-jangan-lukai-psikis-anak-juga

Segala tingkah laku dan perlakuan orang tua kepada anak anak mengenai karakter dan sifatnya di masa depan. Anda perlu berkaca tentang apa saja yang sudah Anda lakukan terhadap anak Anda. Adakah perlakuan - perlakuan yang mungkin melukai si kecil baim secara psikis maupun fisik.

child-1439468_960_720.jpg
Gambar 1. Anak kecil

Melukai anak secara fisik adalah perkara yang jelas karena tindakannya yang nyata berkebalikan dengan melukai anak secara psikis karena tindakannya yang tidak ketara dan sering kali di sepelekan. Padahal psikis anak adalah perkara penting yang akan membentuk karakternya di masa mendatang.

  1. Memberikan ejekan pada anak
    Orangtua kok mengejek anaknya? Jika ini terjadi, sama saja orang tua mengejek dirinya lebih buruk dari pada anaknya. Karena anak dilahirkan oleh orang tuanya, seperti cinta yang terus melahirkan kebaikan. Kalau orang tuanya baik maka anak yang dilahirkan juga baik –hitungan mayoritas. Ejekan akan berefek pada psikologis anak yang menyebabkan anak merasa selalu saja buruk di mata orang tuanya, seperti orang yang tidak diinginkan keberadaannya.

  2. Hindari membandingkan anak
    Ingat ibu-ibu dan bapak-bapak, setiap anak itu berbeda-beda. Berbeda dari segi fisik, kecerdasan, keunggulan. Maka hindarilah membandingkan anak anda dengan anak yang lainnya. Angkat dan dukunglah kelebihan anak anda. Membandingkan anak dalam keburukan anak akan menyebabkan anak menjadi orang yang tidak percaya diri dengan kemampuan dan keunggulannya, menyebabkan anak malu pada orang tuanya sendiri. Kalau ini sudah terjadi, lalu siapa yang akan menjadi teman terbaik bagi anak.

  3. Kekurangan tidak untuk ditonjolkan
    Jangan pernah menunjukan sisi lemah anak Anda. Nantinya anak akan merasa rendah diri dan tidak berani untuk survive bahkan menjadi orang menjadi mudah putus asa.
    Lebih baik membesarkan hati anak dengan memberikan reinforcement, itu kalau bahasa akademiknya. Artinya orang tua harus memberi penguatan seperti “pekerjaanmu luar biasa bagusnya, anakku”.

  4. Berlebihan dalam memarahi anak
    Marah memang kadang diperlukan akan tetapi, marah tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah. Apalagi kalau memarahi anak, ini akan menyebabkan bertambahnya masalah pada anak. Membuat anak akan takut dengan orang tuanya sendiri. Sehingga menyebabkan rumah bukanlah terbaik untuk dirinya dan selalu ingin keluar dari rumah yang terus terasa kejam. Hindari memarahi anak lebih baik, ungkapkan hal-hal yang menyejukan anak dengan nasehat. Itu akan berakibat positif bagi anak.

    Keluarkanlah kata-kata yang membawa manfaat pada anak-anak anda. Sehingga anak akan terus terdidik menjadi orang yang selalu mengatakan kebaikan dan membawa manfaat yang akan menjadi citra kebaikan anda sebagai orang tua anak.
Mendidik dan merawat anak bukanlah perkara yang mudah. Untuk itu sebagai orang tua Anda baiknya selalu mempertimbangkan perlakuan Anda kepada anak Anda yang kiranya dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental anak.

Oleh : Call Me
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi :
https://www.kompasiana.com/afif-auliya-nurani/kenali-jenis-kekerasan-psikis-pada-anak_590969cff37e61986bcc6a18
https://cantik.tempo.co/read/812764/jangan-sepelekan-dampak-kekerasan-psikis-pada-anak Referensi gambar : Gambar 1. https://pixabay.com/en/child-education-fear-terror-1439468/

Senin, 29 Oktober 2018

Menghindari Anak Mengalami Trauma

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/menghindari-anak-mengalami-trauma

Masa kanak-kanak menjadi bagi masa yang menyenangkan bagi seorang anak. Masa kanak-kanak pun menjadi masa bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun, ada juga anak yang mengalami trauma. Secara mendasar, trauma yaitu peristiwa kelam yang pernah dialami oleh seorang anak. Biasanya, trauma sulit hilang dari dalam benak sang anak. Bila anak mengalami trauma, terlebih trauma berat, secara psikologis berdampak kurang baik bagi perkembangan anak. Dan juga, akan mempengaruhi kehidupannya saat berusia dewasa. Kita, sebagai orang tua, tentunya tak ingin sang anak mengalami trauma. Terlebih, trauma berat.

boy-1636731_960_720.jpg
Gambar 1. Anak Trauma

Nah, bagaimana agar anak tak mengalami trauma? Berikut beberapa kategori perilaku yang dapat menyebabkan anak mengalami trauma, dilansir dari situs International Society for Traumatic Stress Disorder (istss.org). Sebagai orang tua, kita mesti menghindari perilaku tersebut.

  • Kekerasan fisik. Misalnya, dipukul, ditampar, dipecut, ataupun ditendang secara berlebihan.
  • Kekerasan seksual. Secara mendasar, kekerasan ini yaitu memaksa anak untuk berhubungan intim dengan orang dewasa. Biasanya, kekerasan ini dialami anak perempuan
  • Kekerasan psikis. Misalnya, seorang ibu yang sangat mengancam anak, seorang ayah yang mempermalukan anak di hadapan orang lain, mengejek sang anak secara berlebihan, mempermainkan anak secara menyakitkan, ataupun menyebut kata-kata kasar secara berlebihan misalnya menyebut kata bodoh kepada sang anak.
  • Perilaku yang berisiko menyebabkan anak mengalami kematian. Misalnya, seorang ayah yang tak memberi nafkah ataupun seorang ibu yang tak memberi makan kepada anaknya, ataupun seorang ayah yang membiarkan anaknya kesakitan hingga sangat berisiko menyebabkan kematian.

Lalu, apa saja dampak trauma terhadap perkembangan sang anak? Berikut dampak-dampak tersebut, dilansir dari situs practicenotes.org. Tak tertutup kemungkinan dampak-dampak berikut terbawa hingga anak berusia dewasa. Terlebih, bila sang anak mengalami trauma berat.

  • Kesulitan bersosialisasi seperti berkomunikasi dengan orang lain, kesulitan berempati atau memahami perasaan orang lain, cenderung mementingkan diri sendiri (egois), dan sering menyendiri serta mengurung diri sendiri.
  • Menurunnya kesehatan raga dan batin seperti mudah terserang penyakit, kesulitan bergerak karena mengalami kekerasan fisik, tak lincah bergerak, mudah takut, dan sebagainya.
  • Kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku. Misalnya, anak mudah berkelahi dengan sesamanya ataupun anak begitu mudah temperamental. Dapat juga seorang anak bersikap temperamental terhadap orang tuanya.
  • Menurunnya kemampuan belajar. Misalnya, sulit berkonsentrasi, sulit mencerna pelajaran sekolah, sulit dalam hal berbahasa, sulit mengingat, sulit mencerna hal-hal baru, dan sebagainya.
  • Tak percaya diri dan sama sekali tak mempunyai keinginan. Bila anak tak memiliki sikap percaya diri dan keinginan, sang anak akan sama sekali tak akan memiliki motivasi. Selain itu, sang anak cenderung bersikap pesimis terhadap berbagai hal.

Kesimpulannya, sekali lagi, kita sebagai orang tua mesti menghindari berbuat perilaku yang berisiko menyebabkan anak mengalami trauma. Tentu saja, karena trauma akan sangat menghambat perkembangannya. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan para orang tua, termasuk orang tua pemula, dalam mendidik sang anak.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
  1. http://www.istss.org/public-resources/remembering-childhood-trauma/what-is-childhood-trauma.aspx
  2. http://www.practicenotes.org/v17n2/brain.htm
Sumber Gambar:
https://cdn.pixabay.com/photo/2016/09/01/17/46/boy-1636731_960_720.jpg