Jumat, 10 Mei 2019

Amankah Meninggalkan Anak Seorang Diri di dalam Rumah?

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/amankah-meninggalkan-anak-seorang-diri-di-dalam-rumah

Terkadang, karena suatu hal, kita mesti bepergian hingga meninggalkan anak seorang diri di dalam rumah. Apakah kita termasuk orang tua yang demikian. Nah, bila dicermati lebih mendalam, apakah sesungguhnya aman bila ia hanya seorang diri di dalam rumah? Ataukah akan mendatangkan hal-hal yang kurang baik kepadanya? Mari mencoba menjawabnya. Untuk menjawabnya, ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan secara seksama.

Pahami Karakter dan Perilaku Anak. Bila seorang diri di dalam rumah, memang akan menanamkan sifat keberanian dalam dirinya. Namun, pada sisi lain, bisa saja berujung petaka. Pahami apakah ia mampu mengendalikan perilakunya. Bila cenderung senang mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya, sebaiknya mengajaknya juga bepergian bersama kita. Karena merasa lebih bebas melakukannya, bisa saja perilaku ini berujung menjadi hal yang tak kita inginkan. Misalnya, menaiki tangga hingga terjatuh.


Gambar 1. Ilustrasi

Apakah Ia Sesungguhnya Penurut? Pahami juga apakah ia memiliki sifat penurut. Sebabnya, karena hanya seorang diri, bisa saja ia melakukan hal yang telah kita tak perbolehkan. Nah, bagaimana bila melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya? Agar hal ini tak terjadi, pahami apakah ia sesungguhnya menuruti orang tuanya? Bila tidak, sebaiknya ajaklah pergi bersama kita. Kita tentunya tak ingin hal kurang baik terjadi pada dirinya.

Bagaimana Mempersepsikan Situasi? Bila situasi sesungguhnya sangat darurat namun tak menganggap demikian, bisa saja akan berujung menjadi petaka. Misalnya, ambil contoh terjadi percikan api di dalam dapur lalu mulai membakar benda-benda di sekitarnya. Ataupun, ada orang mencurigakan berada di dalam halaman orang. Nah, bagaimana persepsinya terhadap kejadian tersebut? Apakah menganggapnya sebagai hal yang biasa terjadi ataupun hal yang membutuhkan perhatian lebih? Kita mesti mengetahui bagaimana kemampuannya dalam meresponnya.

Pahami Apakah Mampu Mengambil Keputusan Penting? Saat kita berada di luar rumah, tak tertutup kemungkinan bisa saja muncul hal-hal darurat di dalam rumah. Nah, apakah anak mampu mengambil keputusan penting pada saat tersebut? Bila kita menilai ia kurang mampu, sebaiknya membawanya pergi. Bila menunjukkan kegelisahan atau kepanikan ataupun cenderung demikian sebelum kita meninggalkannya, sesungguhnya menjadi pertanda bahwa ia tak kurang siap seorang diri di dalam rumah. Sebagai hal penting yang mesti digarisbawahi, ia tentunya tak seperti Macaulay Culkin dalam film Home Alone yang tentunya pernah kita saksikan. Ia berperan menjadi anak yang mampu melumpuhkan para penjahat yang ingin merampok isi rumahnya dengan aksi-aksinya dan keputusannya yang jenius.

Demikian, beberapa hal yang sebaiknya kita pertimbangkan bila ingin meninggalkannya hanya seorang diri di dalam rumah. Sekali lagi, tak salahnya lebih mempertimbangkannya. Memberinya kepercayaan untuk hal tersebut belum tentu akan mendatangkan manfaat baginya. Semoga tulisan ini semakin menambah wawasan terkait seluk beluk pendidikan anak.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
1. http://www.charlotteparent.com/CLT/When-is-it-OK-to-Leave-Your-Child-Home-Alone

Gambar:
1. https://cdn.pixabay.com/photo/2015/03/27/14/30/boy-694763_960_720.jpg

Sabtu, 04 Mei 2019

Konsep PARENTING Untuk Orang Tua yang Sibuk Bekerja

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/konsep-parenting-untuk-orang-tua-yang-sibuk-bekerja

Saat orang tua bekerja untuk menghidupi keluarga, memang mesti meninggalkan sang anak. Padahal, peran dan kehadiran orang tua teramat penting dalam proses pendidikannya. Bila ayah dan ibunya bekerja, bisa saja ia akan sangat kehilangan sosok panutannya. Nah, bila kita termasuk orang yang demikian, bagaimana sebaiknya mendidik anak? Dalam seminarnya bertajuk Strategi Working Parent Menghadapi Anak Di Era Milenial yang diadakan di Museum Geologi Bandung pada tanggal 26 Januari 2019,, Zulaehah Hidayati menuturkan konsep PARENTING yang sangat menarik dan mudah diikuti. Zulaehah seorang pendiri Rumah Parenting dan juga berprofesi sebagai dokter.


Gambar 1. Bekerja

P : Pengasuhan. Terkadang, karena sibuk berada di kantor untuk bekerja, kita terlupakan bahwa memiliki seorang anak. Terkadang juga, karena sibuk, lebih fokus mencari uang dibandingkan meluangkan waktu untuknya. Nah, sang anak sebenarnya perlu mendapatkan pengasuhan. Kita memang mesti rajin memperkaya pengetahuan terkait seluk beluk pengasuhan anak. Misalnya, membaca berbagai tips dan trik ataupun membaca buku bertema hal tersebut.

A : Anugrah. Seorang anak sesungguhnya adalah anugrah. Karenanya, kita mesti mensyukurinya dengan wujud mendidiknya sebaiknya-baiknya. Bila kita benar-benar menyadarinya, kita tentunya akan memberikan hal terbaik untuknya. Tak akan merasa berat juga bila mesti meninggalkan pekerjaan. Sang anak tentunya jauh lebih penting dibandingkan urusan pekerjaan.

R : Redam Emosi. Pekerjaan yang begitu banyak dan menumpuk memang menjadikan pikiran menjadi begitu lelah dan mudah stres. Dalam situasi ini, biasanya emosi cepat memuncak. Nah, bila kita merasakannya, hindari berperilaku emosional di hadapan sang anak. Kita tentunya tak ingin ia menjadi korban emosi kita. Ada baiknya menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengannya.

E : Empati. Memahami hal-hal yang dirasakan olehnya menjadi inti sikap berempati. Nah, apakah kita bersikap demikian kepada sang anak? Terkadang, karena lelah karena pekerjaan, bisa saja kita cenderung mengacuhkannya. Bila ia merasa diacuhkan, bisa saja tak mendengarkan nasehat orang tuanya sama sekali.

N : Notifikasi. Apa maksudnya hal ini? Maksudnya, mesti memberikan contoh dan tindakan nyata dari hal-hal yang kita nasehatkan kepadanya. Karena bekerja, kita tentunya tak akan menghabiskan banyak waktu di dalam rumah. Karenanya, menerapkan hal ini menjadi salah satu wujud mendidiknya yang efektif.

T : Tanamkan Energi Positif. Ada banyak cara untuk menanamkannya. Salah satu cara efektif yaitu memberikannya contoh nyata. Misalnya, saat menghadapi suatu masalah, tunjukkan kepadanya sikap tenang dan optimis. Tanpa menanamkanya, bisa saja muncul energi negatif dalam dirinya. Misalnya, mudah mengeluh, kurang percaya diri, dan cepat putus asa.

I : Introspeksi. Dalam mendidiknya, orang tua pun mesti juga berintrospeksi diri. Sebabnya, tak ada hal yang sempurna. Bisa saja ada kekeliruan yang tak kita sadari Karena sibuk bekerja dan merasa lelah saat berada di rumah karena pekerjaan, belum tentunya kita memiliki banyak waktu untuk melakukannya. Karenanya, meluangkan waktu untuk berintrospeksi diri tentunya menjadi hal penting

NG : Ngadain Time Out. Meskipun lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, tak lantas sama sekali tak dapat memberinya hukuman. Memberi hukuman kepadanya, bila ia berbuat kesalahan, sesungguhnya menjadi hal penting dan bermanfaat untuknya. Tujuannya, untuk menanamkan hal-hal tertentu di dalam benak sang anak. Misalnya, kedisiplinan.

Demikian, konsep PARENTING yang dapat dicoba diterapkan bagi orang tua yang sibuk bekerja. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan kita terkait seluk beluk pendidikan anak.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
Harian Umum Pikiran Rakyat 3 Februari 2019

Gambar:
1.https://cdn.pixabay.com/photo/2018/05/09/10/54/business-3385079_960_720.jpg