Selasa, 17 Juli 2018

Pentingnya Toleransi dan cara Mengembangkan sikap toleransi pada anak

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/pentingnya-toleransi-dan-cara-mengembangkan-sikap-toleransi-pada-anak

Dalam kehidupan bermasyarakat sikap toleransi adalah salah satu sifat yang sangat perlu untuk dikembagkan. Sikap toleransi dapat membangun kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat. Terutama di Indonesia yang pada dasarnya terdiri dari berbagai perbedaan, sikap toleransi akan menyatukan berbagai perbedaan suku, agama, bangsa, dan ras.

kid-1241817_960_720.jpg
Gambar 1. Anak

Untuk itu sikap toleransi hendaklah dipupuk dan dikembangkan sejak dini. Mengajarkan anak mengembangkan sifat toleransi dapat dimulai dari hal - hal kecil. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab berikut sikap dan sifat yang harus dikembangkan dan ditunjukan orang tua kepada anaknya.

  1. Menumbuhkan harga diri pada anak
    Anak yang memandang positif dirinya cenderung memandang positif orang lain. Mereka tidak mudah merasa terancam jika orang lain berbeda dengannya. Anak yang bahagia, gembira, dan diperlakukan penuh hormat juga cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat. Anak-anak yang merasa nyaman dengan dirinya juga lebih senang bereksplorasi dan tidak ragu berdebat dengan sehat.

  2. Tidak membandingkannya dengan pihak lain
    Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Siapa saja dari suku apa saja, dan dari agama apa pun bisa melakukan kesalahan. Tahan diri Anda untuk berkomentar menyangkut perbedaan (ras, suku, agama) dengan hal salah yang mereka lakukan. Dengan demikian anak pun belajar dari Anda untuk selalu memaafkan dan menghargai perbedaan.

  3. Mengajarkan anak untuk menghormati tradisi lain
    Rayakan tradisi dalam keluarga Anda dengan gembira dan penuh hormat. Diskusikan makna tradisi itu bagi Anda dan keluarga. Cobalah mengeksplorasi tradisi lain, hari raya lain, di luar zona nyaman Anda. Ajak anak memperhatikan bagaimana tradisi dan hari raya yang berbeda memberi makna bagi pelakunya.

    child-817369_960_720.jpg
    Gambar 2. Anak saling membantu

  4. Biarkan anak tumbuh dalam keberagaman
    Ketika Anda hendak memilih sekolah untuk anak, kegiatan usai sekolah, atau kegiatan selama liburan seperti holiday camp, pertimbangkan keragaman yang akan ia temui. Salah satu cara terbaik untuk membuat anak mau memahami orang lain adalah dengan mengalaminya sendiri. Pengalaman menjelajah dan berkenalan dengan ragam budaya dan masyarakat akan membuat anak bisa menghargai dan menghormati orang lain dan tetap bisa mengekspresikan pandangan, nilai-nilai, atau budaya. Ajari anak bahwa kita tak harus setuju atau mengadopsi perbedaan itu, tapi kita bisa selalu menghargai orang lain yang berpegang teguh pada nilai yang dianutnya.

    different-nationalities-1743392_960_720.jpg
    Gambar 3. Bersatu dalam perbedaan

  5. Perhatikan media tontonan anak
    Tanpa kita sadari, media yang ditonton, dibaca, dan didengar anak juga turut serta memberi masukan mengenai stereotipe, kesetaraan, dan rasa hormat kepada sesama. Mama perlu jeli membaca pesan tersirat dari alur cerita, penokohan, dialog atau sudut pandang penceritaan dari media yang dinikmati anak. Meski demikian, dunia tidak mungkin steril dari semua hal yang berseberangan dengan nilai keluarga Anda. Sekali lagi, kebiasaan berdiskusi menjadi kuncinya.

Dalam mengembangkan sikap toleransi pada anak yang terpenting adalah bagaimana Anda memberi contoh perilaku yang tepat bagi buah hati Anda.

Oleh : Nadiran
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi :
http://lib.unnes.ac.id/6288/1/7795.pdf
http://indotopinfo.com/mengajarkan-toleransi-pada-anak.htm

Referensi gambar :
Gambar 1. https://pixabay.com/en/kid-child-happy-fun-happiness-1241817/
Gambar 2. https://pixabay.com/en/child-children-girl-happy-people-817369/
Gambar 3. https://pixabay.com/en/different-nationalities-children-1743392/

Rabu, 11 Juli 2018

Memahami Penyebab-Penyebab Stres Pada Anak

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/memahami-penyebab-penyebab-stres-pada-anak

Sama seperti halnya orang dewasa, sang anak pun dapat juga mengalami stres. Secara psikologis mengalami stres memang menjadi hal wajar dan juga menjadi bagian proses perkembangan anak. Misalnya, anak mengalami stres menginjak sekolah pertama kali. Seiring waktu, sang anak mampu mengatasinya. Nah, bila sang anak mengalami stres berlebih, tak tertutup kemungkinan menghambat proses perkembangannya. Misalnya, karena mengalami stres berlebih, sang anak sama sekali tak ingin bersekolah. Ataupun, karena stres, sang anak lebih senang mengurung diri di dalam kamar. Lalu, hal apa saja yang sangat berisiko menyebabkan anak mengalami stres? Berikut beberapa hal tersebut.


Gambar 1. Apa Saja Penyebab Anak Mengalami Stres?

Pertengkaran Orang Tua dan Perceraian. Pertengkaran orang tua dan perceraian sangat berisiko menyebabkan sang anak mengalami stres. Saat melihat orang tuanya bertengkar, secara psikologis membuat sang anak merasa begitu takut. Tak tertutup kemungkinan, rasa takut ini memunculkan stres berlebihan, kepanikan berlebih, ataupun trauma. Saat melihat orang tua bercerai, secara psikologis membuat sang anak merasa ditinggalkan salah satu orang tuanya. Tentu saja karena setelah perceraian, sang anak mesti tinggal dengan salah satu orang tua. Tak tertutup kemungkinan juga, karena merasa ditinggalkan salah satu orang tua, sang anak akan mengalami stres berlebih.

Lingkungan Sosial Baru. Lingkungan sosial baru pun dapat menjadi penyebab anak mengalami stres. Misalnya, sang anak memasuki lingkungan sekolah untuk pertama kali, Ia terlihat begitu stres. Contoh lainnya, saat anak merasa stres setelah berkenalan dengan teman baru. Sang anak merasa stres, karena tak mampu mengatasi rasa takut dan panik yang muncul dirinya. Bila sang anak mampu beradapatasi, tentunya akan mencegahnya mengalami stres berlebih.

Anggota Keluarga Ataupun Kerabat Dekat Meninggal Dunia. Bila ada ada anggota keluarga ataupun kerabat dekat meninggal dunia, tak tertutup kemungkinan membuat anak mengalami stres berlebih. Sebabnya, membuat sang anak merasa bersedih. Bila sang anak tak mampu mengatasi rasa sedihnya, biasanya membuat sang anak mengalami stres berlebih.. Selain anggota keluarga dan kerabat dekat, bila hewan piaraan kesayangan sang anak meninggal karena perilaku, misalnya lupa memberinya makan, dapat juga memunculkan rasa bersalah yang sangat dalam.

Melakukan Serangkaian Aktivitas Berlebih yang Melelahkan. Apakah anak kita termasuk yang demikian? Misalnya, sang anak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ataupun mengikuti les hingga malam hari. Bagi sang anak, melakukan aktivitas berlebihan yang melelahkan, berisiko menjadi pemicu stres berlebih. Terlebih, sang anak belum mampu mengatur jadwal secara efektif. Dan juga, bila sang anak terus menerus melakukan aktivitas tanpa jeda istirahat yang cukup.

Demikian, beberapa hal yang berisiko menyebabkan anak mengalami stres. Sebagai orang tua, bila anak kita mengalami stres berlebih, tentunya kita mencari solusi untuk mengatasinya.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
https://www.parents.com/advice/parenting/better-parenting/what-causes-stress-in-kids/

Sumber Gambar:
https://cdn.pixabay.com/photo/2017/12/11/10/40/beauty-3011895_960_720.jpg