Selasa, 23 April 2019

Mengarahkan Anak Remaja

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/mengarahkan-anak-remaja

Apakah anak kita telah memasuki usia remaja? Ditinjau dari sisi usia, kategori remaja berusia dari 12 hingga 21 tahun. Setelah melewati fase tersebut, akan memulai menginjak masa dewasa. Nah, kita sebagai orang tua, bagaimana sebaiknya mengarahkannya dan juga mendidiknya? Fase ini tentunya sangat berbeda dengan sebelumnya, yaitu fase anak-anak. Karenanya, menjadi tantangan tersendiri. Biasanya juga akan menunjukkan perubahan perilaku. Berikut beberapa tips mengarahkannya dan mendidiknya.

Berikan Kelonggaran dan Sedikit Kebebasan. Dibandingkan fase sebelumnya, pada fase remaja umumnya hubungannya dengan orang tua memang lebih longgar. Selain itu, biasanya lebih senang bergaul dengan teman-temannya. Nah, kita memang mesti memberikan kelonggaran kepadanya. Tujuannya, agar mereka lebih mengenal diri sendiri. Selain itu, menanam kemandirian dan rasa tanggung jawab kepadanya. Mengawasinya secara sangat ketat sesungguhnya bukan hal tepat dalam mendidiknya. Namun, tak lantas sama sekali bersikap acuh sehingga anak benar-benar merasa sangat bebas. Ada saatnya kita mesti mencampuri urusannya. Misalnya, saat menghadapi permasalahan berat. Berikan juga sedikit kebebasan yang sesuai dengan usia mereka. Misalnya, membebaskannya pulang hingga pukul 8 ataupun 9 malam. Bila pulang sangat larut, tentunya mesti menegurnya.

girls-1031538_960_720.jpg
Gambar 1. Remaja

Hindari Bertanya Secara Interogatif. Kita pun tentunya mesti juga menjaga komunikasi dengannya. Nah, sebaiknya hindari bertanya dengan nada bicara yang cenderung menginterogasinya. Terlebih, bila sedang bermasalah. Bisa saja mereka akan semakin menjauh sehingga menjadikan hubungannya dengan orang tuanya menjadi sangat renggang. Kita tentunya bukan seorang polisi yang sedang menginterogasi pelaku kejahatan. Tanyalah dengan nada bicara yang lebih positif/

Apakah Anak Pernah Merasa Bersalah? Bila anak melakukan kesalahan, terlebih kesalahan besar apakah benar-benar merasa berasalah? Bila merasa bersalah, secara psikologis menjadikan mereka untuk berbenah. Dan juga, tak akan mengulangi kesalahan yang telah mereka perbuat. Sebaliknya, bila tak merasakannya, tak tertutup kemungkinan akan memiliki karakteristik egois ataupun merasa benar meskipun sesungguhnya berbuat keliru. Kita memang mesti mendidiknya agar merasakannya bila melakukan kesalahan,

Ceritakan Risiko dan Konsekuensi. Secara psikologis, emosi pada fase remaja memang belum stabil. Karenanya, tak tertutup kemungkinan akan melakukan hal yang dinginkannya tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Dengan kata lain, tak memikirkan risiko dan konsekuensi dari tindakannya. Nah, kita mesti memahamkan hal ini kepadanya. Ambil contoh, sang anak gemar mengendarai motor tanpa helm di jalan raya. Kita jelaskan bagaimana risikonya.

Menjadi Sosok Panutan dan Berikan Contoh yang Baik. Orang tua pun masih contoh dam juga panutan. Karenanya, kita sebagai orang tua, tentunya mesti menjadi tauldan dan juga mesti memberikan contoh yang baik kepadanya. Mereka pun akan meniru norma dan etika yang kita tampilkan. Namun, memang tak sedikit orang tua yang kurang menyadari peran ini.

Demikian, beberapa tips mengarahkan dan mendidik anak yang telah memasuki fase remaja. Tak ada salahnya kita sebagai orang lebih memahaminya. Semoga tulisan ini membantu para orang tua yang memiliki anak remaja.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
https://www.webmd.com/parenting/features/10-parenting-tips-for-raising-teenagers#1

Gambar:
https://cdn.pixabay.com/photo/2015/11/07/11/50/girls-1031538_960_720.jpg

Selasa, 09 April 2019

Menyikapi Anak yang Gemar Mencoret-Coret Dinding

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/menyikapi-anak-yang-gemar-mencoret-coret-dinding

Anak umumnya begitu gemar mencoret-coret. Aktivitas ini ,memang mendatangkan beragam manfaat penting baginya. Antara lain mendorong perkembangan motorik, melatih kemampuan menulis, memacu kreativitas, melatihnya dalam mengambil keputusan, dan membangun fokus dan konsentrasi. Nah, bagaimana bila sang anak gemar mencoret-coret dinding, furniture, ataupun bagian yang tak seharusnya? Misalnya, pada meja, kursi, ataupun lemari? Melarangnya atau memarahinya agar tak melakukannya sesungguhnya bukan hal tepat. Seperti yang sudah disebutkan, aktivitas ini mendatangkan beragam manfaat penting baginya. Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapinya?

Desain Dinding Sedemikian Rupa Agar Nyaman Baginya. Bila tampak coretan-coretan pada dinding, terlebih bila begitu semrawut dan berada pada spot yang sering kita lewati, tentunya kita akan merasa kurang nyaman berada di dalam rumah. Kita pun mesti menyiapkan anggaran untuk membeli cat, dan juga menyisihkan waktu untuk mencatanya. Bisa saja mesti mengeluarkan dana besar. Namun, pada sisi lain, melarang untuk tidak mencoret-coretnya sesungguhnya hal keliru. Nah, kita rancang dinding agar nyaman dicoret-coret namun tetap bersih. Misalnya, menggantung papan berukuran besar ataupun menempel banyak kertas jumbo. Sediakan juga alat menggambar yang coretannya mudah dihapus. Misalnya, kapur. Dengan menerapkan tips ini, anak bebas berkreasi tanpa mengotori bagian rumah tersebut.


Gambar 1. Karya Anak pada Dinding

Jelaskan Bahwa Lebih Nyaman Mencoret-Coret pada Kertas. Kita berikan beberapa lembar kertas gambar kepadanya. Sediakan juga peralatan gambar dengan bentuk dan warna-warni yang menarik. Lalu, jelaskan dan yakinkan kepadanya bahwa lebih nyaman mencoret-coret pada media tersebut. Ajaklah dan tantanglah juga untuk berkarya bersama membuat gambar suatu objek. Misalnya, hewan, rumah, mobil, dan sebagainya. Bila sang anak sama sekali merasa enggan, kita memang mesti bersabar. Membuat beralih tentunya memang tak mudah. Namun, seiring waktu, tentunya ia akan merasa bosan dan kurang nyaman 'berkarya' di bagian rumah tersebut.

Mengajaknya Beraktivitas Lain. Cobalah mengajaknya untuk melakukan aktivitas lainnya. Buatlah ia agar sangat menyenangi aktivitas barunya sehingga kegemarannya berkarya membuat coretan pada dinding benar-benar terlupakan. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan bersamanya yang manfaatnya kurang lebih sama dengan aktivitas berkarya tersebut. Misalnya, bermain game pada perangkat gadget secara bersama, berolahraga bersama, menonton tayangan televisi yang berisi pelajaran membaca dan menulis secara menyenangkan, dan sebagainya. Bila ia benar-benar sangat 'kecanduan dan kronis', menerapkan tips ini tentunya sangat penting.

Sebaiknya Tak Menjauhkan Peralatan Untuk Menggambar. Sebagian orang tua, menjauhkan peralatan yang dapat digunakan sang buah hati untuk menggambari dinding. Hal ini sesungguhnya kurang tepat. Sebabnya, menghambat perkembangan kreativitasnya dan motoriknya. Karena dinding berukuran luas dibandingkan media lainnya seperti kertas, akan lebih memacu kreativitasnya untuk mencurahkan apapun yang di dalam benaknya.

Demikian, bagaimana kita sebaiknya menyikapi perilaku sang buah yang gemar membuat karya pada dinding. Sekali lagi, melarangnya ataupun memarahinya karena ingin berkarya meskipun pada media yang tak sesuai sesungguhnya hal kurang tepat dan keliru. Sebabnya, aktivitas ini sesungguhnya menjadi proses penting dalam perkembangannya.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
  1. https://cantik.tempo.co/read/777397/5-manfaat-corat-coret-bagi-anak
  2. https://parenting.firstcry.com/articles/your-baby-wont-be-spoiling-your-walls-with-her-scribbling-with-these-4-easy-tricks-in-place/
  3. https://living.thebump.com/stop-child-drawing-walls-16618.html
Gambar:
1. Milik Pribadi