Selasa, 12 Februari 2019

Dampak Negatif Film Berisi Adegan Kekerasan Terhadap Sang Anak

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/dampak-negatif-film-berisi-adegan-kekerasan-terhadap-sang-anak

Saat ini, beragam tayangan menghiasi layar televisi. Termasuk tayangan yang berisi adegan kekerasan seperti perkelahian ataupun menggunakan senjata api. Nah, sebagai orang tua, kita mesti mengawasi tayangan disaksikan oleh sang anak. Namun, umumnya orang tua cenderung memberikannya kelonggaran baginya untuk menyaksikan berbagai tayangan. Nah, bila ia gemar menonton film yang berisi kekerasan, ada baiknya tak mengizinkannya. Tak ada salahnya juga lekas mengganti channel televisi ataupun mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan aktivitas lainnya. Tak tertutup kemungkinan, film ini mengakibatkan dampak negatif baginya. Berikut dampak-dampak negatif tersebut bagi perkembangannya.

Sword-Fighting-Fight-Man-Clothing-Outfit-People-1694627.jpg
Gambar 1. Adegan Kekerasan

Membuat Sang Anak Ingin Meniru Adegan Kekerasan. Secara psikologis, seorang anak memang senang meniru segala hal. Nah, bila gemar menonton tayangan-tayangan yang banyak berisi adegan perkelahian, bisa saja ia akan meniru adegan-adegan perkelahian yang ia telah saksikan. Terlebih, bila sering menyaksikannya. Tak akan segan juga mengajak teman-temannya untuk berkelahi. Ia pun cenderung akan menganggap adegan kekerasan sebagai aksi nyata. Padahal, adegan kekerasan telah dikemas sedemikian rupa oleh sang sutradara agar terlihat nyata. Nah, bila sang jagoan melakukan aksi-aksi berbahaya misalnya melompati dari atap rumah ke atap rumah lainnya ataupun memanjat pohon tinggi, bisa saja akan ditiru olehnya. Sebagai hal penting lainnya yang mesti kita perhatikan, menurut suatu penelitian, bila anak senang menonton film berisi adegan kekerasan, membuatnya kecanduan menontonnya

Mendidik Banyak Hal Keliru Kepada Sang Anak. Film berisi adegan kekerasan pun cenderung mendidik banyak hal keliru kepada sang anak. Ambil contoh, dalam film yang berisi adegan kekerasan, biasanya si penjahat tampil dengan wajah seram dan berbadan besar. Sedangkan si jagoan biasanya berwajah tampan. Nah, karena hal tersebut, tak tertutup kemungkinan, membuatnya memandang bahwa seluruh pria berwajah seram dan berbadan besar adalah penjahat. Dan juga, seluruh pria berwajah tampan adalah orang baik. Tentunya, dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Selain itu, tak tertutup kemungkinan juga, sang anak akan menganggap seluruh hal yang dilakukan sang jagoan adalah hal terpuji. Ambil contoh, sang jagoan beraksi kebut-kebutan mengendarai mobilnya mengejar penjahat hingga menyerempet pejalan kaki. Bisa saja, sang akan memandang aksi ini sebagai tindakan terpuji.

Cenderung Memunculkan Sikap Anti Sosial dan Agresif. Menurut suatu penelitian, anak yang terlalu banyak menyaksikan tayangan berisi adegan kekerasan, sangat berisiko mengakibatkan sulit berkonsentrasi dan acuh atau kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, menurut penelitian lainnya, menjadikannya cenderung memandang dunia diisi oleh banyak orang jahat. Hal ini akan tentunya memacu sikap agresif di dalam dirinya.

Demikian, beberapa dampak negatif film berisi adegan kekerasan terhadap perkembangan sang anak. Memang, sebaiknya kita tak mengizinkannya menonton film tersebut. Namun, kita dapat memanfaatkan televisi dengan menyajikan tayangan bertema anak. Tentu saja, untuk lebih membangun intelegensinya, Beberapa contoh tayangan ini antara lain film berisi cara penambahan ataupun pengurangan, tayangan untuk mengenal lingkungan sekitar. Di berbagai toko, film berisi tayangan ini tak sulit kita temukan.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
1. https://www.beingtheparent.com/effects-of-violent-movies-on-toddlers/
2. https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/anak-nonton-film-kekerasan-psikopat/

Gambar:
1. https://www.maxpixel.net/static/photo/1x/Sword-Fighting-Fight-Man-Clothing-Outfit-People-1694627.jpg

Minggu, 27 Januari 2019

Memahami Gaya-Gaya Mendidik Anak

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/memahami-gaya-gaya-mendidik-anak

Keluarga menjadi lingkungan utama dan pertama bagi sang anak. Karenanya, sebagai orang tua, kita wajib mendidiknya sebaiknya-baiknya. Semakin baik kita mendidiknya, menjadikan proses perkembangannya menjadi lebih lebih. Nah, menurut penelitian, terdapat empat gaya berbeda dalam mendidiknya. Yaitu otoriter, otoriterian, permissive, dan uninvolved. Nah, tak ada salahnya mari mencoba mengenalnya. Nah, seperti apa masing-masing gaya tersebut?

Child-Mom-Girl-Family-Mother-Parent-Mum-Daughter-3273202.png
Gambar 1. Anak dan Orang Tua

Gaya Otoriter. Gaya ini menekankan ketegasan. Menerapkan gaya otoriter bermakna menerapkan berbagai peraturan yang mesti dipatuhi. Bila sang anak tak menaatinya akan mendapatkan hukuman. Sedangkan bila menaati peraturan, akan mendapatkan hadiah. Nah, meskipun orang tua berkuasa menetapkan peraturan, tak lantas bertindak sepihak. Sebelum menerapkan peraturan, orang tua akan mempertimbangkan segala hal terkait kondisi psikologis sang anak. Sebagai hal penting, menurut penelitian, mendidiknya dengan gaya otoriter, menjadikannya berpeluang besar meraih kesuksesan berkarir. Selain itu, akan lebih menanamkan sikap disiplin tanggung jawab. Mendidiknya dengan gaya otoriter pun akan menjadikannya begitu percaya diri menyampaikan pendapatnya di hadapan banyak orang.

Gaya Otoriterian. Gaya otoriterian dan gaya otoriter memang menerapkan berbagai peraturan dan hukuman ketat dan tegas. Namun, keduanya tak sama. Dalam menerapkan gaya otoriterian, sama sekali mengacuhkan pendapat dan isi hati sang anak. Karenanya, orang tua menerapkan peraturan secara sepihak tanpa memperhatikan kondisi psikologisnya Gaya otoriterian memang sangat berisiko mengurangi keharmonisan orang tua dengan anak. Selain itu, berisiko juga membuatnya menjadi seorang pembohong. Tentu saja, agar tak menerima hukuman karena tidak menaati peraturan. Anak yang dididik dengan gaya otoriterian pun cenderung akan menjadi orang yang kurang percaya diri saat berusia dewasa. Sebabnya, dalam masa perkembangan, pendapat dan isi hatinya diacuhkan orang tuanya.

Gaya Permissive. Dalam menerapkan gaya permissive, orang tua mengedepankan kelonggaran dan toleransi dalam mendidik anak. Karenanya, tak ada peraturan dan hukuman tegas dan ketat seperti halnya dalam gaya otoriter dan otoriterian. Dengan kata lain, gaya permissive merupakan kebalikan dari gaya otoriter. Nah, kelemahan gaya ini yaitu cenderung menjadikannya tak akan memahami makna pentingnya kedisiplinan. Padahal, kedisiplinan menjadi salah satu fondasi penting baginya untuk meraih kesuksesan berkarir saat usia dewasa. Anak pun cenderung tak memahami makna pentingnya peraturan.

Gaya Uninvolved. Nah, bagaimana karakteristik gaya ini? Bila orang tua cenderung kurang memperhatikan perkembangan sang anak, maka termasuk ke dalam gaya ini. Anak dipandang mampu berkembang secara alami. Padahal, sangat penting mendidik berbagai hal kepadanya Nah, karena kurang memperhatikan perkembangannya, secara psikologis cenderung menjadikan sang anak tumbuh menjadi orang yang kurang percaya diri. Dan juga, cenderung menjadikannya merasa kurang bahagia. Orang tua yang bersikap uninvolved umumnya sibuk dengan beragam urusan yang sangat padat.

Demikian, empat gaya dalam mendidik sang anak. Nah, setelah mengenal setIap gaya tersebut, termasuk kategori manakah kita dalam mendidiknya?

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
https://www.verywellfamily.com/types-of-parenting-styles-1095045

Sumber Gambar:
https://www.maxpixel.net/static/photo/1x/Child-Mom-Girl-Family-Mother-Parent-Mum-Daughter-3273202.png