Senin, 29 Oktober 2018

Menghindari Anak Mengalami Trauma

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/menghindari-anak-mengalami-trauma

Masa kanak-kanak menjadi bagi masa yang menyenangkan bagi seorang anak. Masa kanak-kanak pun menjadi masa bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun, ada juga anak yang mengalami trauma. Secara mendasar, trauma yaitu peristiwa kelam yang pernah dialami oleh seorang anak. Biasanya, trauma sulit hilang dari dalam benak sang anak. Bila anak mengalami trauma, terlebih trauma berat, secara psikologis berdampak kurang baik bagi perkembangan anak. Dan juga, akan mempengaruhi kehidupannya saat berusia dewasa. Kita, sebagai orang tua, tentunya tak ingin sang anak mengalami trauma. Terlebih, trauma berat.

boy-1636731_960_720.jpg
Gambar 1. Anak Trauma

Nah, bagaimana agar anak tak mengalami trauma? Berikut beberapa kategori perilaku yang dapat menyebabkan anak mengalami trauma, dilansir dari situs International Society for Traumatic Stress Disorder (istss.org). Sebagai orang tua, kita mesti menghindari perilaku tersebut.

  • Kekerasan fisik. Misalnya, dipukul, ditampar, dipecut, ataupun ditendang secara berlebihan.
  • Kekerasan seksual. Secara mendasar, kekerasan ini yaitu memaksa anak untuk berhubungan intim dengan orang dewasa. Biasanya, kekerasan ini dialami anak perempuan
  • Kekerasan psikis. Misalnya, seorang ibu yang sangat mengancam anak, seorang ayah yang mempermalukan anak di hadapan orang lain, mengejek sang anak secara berlebihan, mempermainkan anak secara menyakitkan, ataupun menyebut kata-kata kasar secara berlebihan misalnya menyebut kata bodoh kepada sang anak.
  • Perilaku yang berisiko menyebabkan anak mengalami kematian. Misalnya, seorang ayah yang tak memberi nafkah ataupun seorang ibu yang tak memberi makan kepada anaknya, ataupun seorang ayah yang membiarkan anaknya kesakitan hingga sangat berisiko menyebabkan kematian.

Lalu, apa saja dampak trauma terhadap perkembangan sang anak? Berikut dampak-dampak tersebut, dilansir dari situs practicenotes.org. Tak tertutup kemungkinan dampak-dampak berikut terbawa hingga anak berusia dewasa. Terlebih, bila sang anak mengalami trauma berat.

  • Kesulitan bersosialisasi seperti berkomunikasi dengan orang lain, kesulitan berempati atau memahami perasaan orang lain, cenderung mementingkan diri sendiri (egois), dan sering menyendiri serta mengurung diri sendiri.
  • Menurunnya kesehatan raga dan batin seperti mudah terserang penyakit, kesulitan bergerak karena mengalami kekerasan fisik, tak lincah bergerak, mudah takut, dan sebagainya.
  • Kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku. Misalnya, anak mudah berkelahi dengan sesamanya ataupun anak begitu mudah temperamental. Dapat juga seorang anak bersikap temperamental terhadap orang tuanya.
  • Menurunnya kemampuan belajar. Misalnya, sulit berkonsentrasi, sulit mencerna pelajaran sekolah, sulit dalam hal berbahasa, sulit mengingat, sulit mencerna hal-hal baru, dan sebagainya.
  • Tak percaya diri dan sama sekali tak mempunyai keinginan. Bila anak tak memiliki sikap percaya diri dan keinginan, sang anak akan sama sekali tak akan memiliki motivasi. Selain itu, sang anak cenderung bersikap pesimis terhadap berbagai hal.

Kesimpulannya, sekali lagi, kita sebagai orang tua mesti menghindari berbuat perilaku yang berisiko menyebabkan anak mengalami trauma. Tentu saja, karena trauma akan sangat menghambat perkembangannya. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan para orang tua, termasuk orang tua pemula, dalam mendidik sang anak.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
  1. http://www.istss.org/public-resources/remembering-childhood-trauma/what-is-childhood-trauma.aspx
  2. http://www.practicenotes.org/v17n2/brain.htm
Sumber Gambar:
https://cdn.pixabay.com/photo/2016/09/01/17/46/boy-1636731_960_720.jpg

Rabu, 17 Oktober 2018

5 Kalimat Sakti Untuk Membuat Kakak Lebih Tenang Menghadapi Adiknya

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/5-kalimat-sakti-untuk-membuat-kakak-lebih-tenang-menghadapi-adiknya

Bagi kebanyakan keluarga punya satu anak tidaklah cukup. Minimal 2 anak baru cukup bagi kebanyakan pasangan. Sudah berpengalaman selama merawat dan membesarkan anak pertama kehamilan yang kedua tentunya akan ditanggapi dengan lebih santai oleh kebanyakan ibu dan tentunya pasangan.

Terlepas dari keperluan perlengkapan bayi, biaya persalinan, dan juga mental sang ibu selama masa kehamilan ada hal lain yang harus dipertimbangkan dan tentunya dipersiapkan matang – matang. Apalagi kalau bukan mental sang kakak dalam menyambut kehadiran adik barunya. Betul, kesiapan sang kakak untuk menyambut kehadiran adik barunya, terutama jika usia si kakak masih di bawah 4 tahun.

brother-1252736_960_720.jpg
Gambar 1. Kakak beradik

Anak pertama mungkin akan mengalami berbagai emosi seperti gembira, cemas, cemburu, atau bahkan benci saat menyambut adik bayinya. Tidak heran ada saja tingkah – tingkah nyeleneh sang kakak mendekati masa persalinan maupun saat sang adik telah lahir. Untuk itu demi menghindari kecemburuan sang kakak ada beberapa hal yang bisa Anda katakan untuk menenangkan batin sang kakak

  1. “Haloo, adik bayi… kakak udah nggak sabar lho ketemu kamu!”
    Anda sudah bisa memberi pengertian pada si kakak tentang adik bayi sejak masih hamil. Sering-seringlah mengajaknya untuk memegang perut ibu lalu mengatakan “hai” atau “halo” pada janin. Jelaskan kalau di perut sedang ada calon adiknya. Anda juga bisa menunjukkan foto ketika si kakak masih bayi.

  2. “Adik bayi itu cantik kayak ibu, kalau kakak itu ganteng kayak ayah”
    Jangan bosan untuk mengajak si kakak menyapa adik bayinya dengan mengelus-elus perut ibu. Kamu pun bisa membiarkan si kakak memegang perut saat si adik bayi tengah menendang atau bergerak. Ceritakan saja kalau itu berarti adik bayi membalas sapaan kakaknya. Selalu ceritakan hal-hal positif tentang adik bayi pada si kakak.

  3. “Kak, kita jalan-jalan yuk, cari baju sama sepatu buat adik…”
    Libatkan si kakak dalam kehebohan mempersiapkan perlengkapan adik bayi seperti baju, kaus kaki, atau mainan. Misalnya, dengan mengajak si kakak belanja perlengkapan di supermarket sembari jalan-jalan. Jangan ragu untuk minta pendapatnya dalam memilih barang-barang untuk adiknya.

  4. “Ibu nggak sabar deh lihat kakak ngajarin adik sikat gigi atau main-main bareng. Pasti seneng banget ya, Kak…”
    Sampaikan pada si kakak untuk ikut berperan merawat adiknya ketika sudah besar kelak. Peranan yang bisa diambil si kakak misalnya membantu ibunya mengambilkan popok bayi, mengajak adiknya bermain, atau mengajari adiknya menyikat gigi jika sudah besar nanti. Katakan pada si kakak bahwa kamu sudah nggak sabar untuk melihat si kakak yang pintar membantu ibu mengurus adiknya

    children-1879907_960_720.jpg
    Gambar 2. Kakak beradik

  5. “Nanti kalau adik sudah lahir, kakak jengukin ya… Adik pasti nggak sabar deh pengen dipeluk sama kakak”
    Di minggu-minggu terakhir sebelum persalinan, luangkan waktu bersama si kakak sebanyak yang kamu bisa. Nikmati momen-momen kebersamaanmu dengan si kakak sebelum terjadi perubahan dalam keluarga, yakni dengan kehadiran sang adik bayi. Ceritakan padanya kalau sebentar lagi adiknya akan lahir, minta ia untuk mengunjungimu dan adik bayi di rumah sakit nanti.
Nah, itulah kelma kalimat sakti untuk menenangkan anak menyambut kelahiran adiknya. Kecemburuan memang wajar bagi anak kecil untuk iti berilah pengertian sejelas mungkin agar mereka memahami keadaan Anda dan juga bayi Anda.

Oleh: Lintang Rahmawati
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi :
  1. https://www.ibupedia.com/artikel/balita/tips-agar-kakak-tidak-cemburu-pada-adik-barunya
  2. https://www.ayahbunda.co.id/balita-psikologi/saat-ada-adik2c-kakak-tak-merasa-dinomorduakan
Referensi gambar :
  • Gambar 1. https://pixabay.com/en/brother-sister-red-hair-freckles-1252736/
  • Gambar 2. https://pixabay.com/en/children-garden-autumn-hide-play-1879907/