Selasa, 19 Februari 2019

Hindari Pertengkaran di Hadapan Anak

Sudah terbit di: https://steemit.com/pendidikananak/@lerengbukit/hindari-pertengkaran-di-hadapan-anak

Memang, ada saatnya kita bertengkar ataupun beradu mulut dengan pasangan. Hal ini memang lumrah dan biasa terjadi dalam membangun kehidupan berumah tangga. Bila mengalami demikian, sebaiknya tak di hadapan sang buah hati. Alangkah baiknya bertengkar di ruang tertutup yang tak terjangkau olehnya dan saat anak tertidur lelap. Terlebih, bila pertengkaran sangat begitu bergejolak dan begitu panas. Dan sangat berisiko bernada keras. Lalu, mengapa kita sebaiknya demikian? Pertengkaran di hadapan anak cenderung mendatangkan hal-hal yang kurang baik dalam perkembangannya. Berikut dampak-dampak kurang baik terhadapnya.

Menjadikan Anak Stres. Pertengkaran memang menjadikan kita dan pasangan stres. Nah, selain kita,meskipun tak terlibat, anak pun sesungguhnya turut merasakannya juga. Menurut suatu penelitian, menyaksikan langsung pertengkaran kedua orang tua menjadikan anak stres. Tak tertutup kemungkinan juga, stres sulit hilang dari jiwanya. Bila anak tak dapat menghilangkan rasa stresnya, tentunya menghambat perkembangannya. Misalnya, tak ingin belajar dan tak ingin bersekolah ataupun tak ingin bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Stres pun dapat memicu perilaku agresif misalnya berkelahi dengan sebayanya, bersikap temperamen. Dan juga, berisiko memicu munculnya berbagai penyakit.

silhouette-2480321_960_720.png
Gambar 1. Orang Tua Bertengkar

Menurunkan Kemampuan Bersosialisasi dan Berelasi. Orang tua menjadi role model atau panutan baginya. Termasuk juga dalam hal bersosialisasi dan membangun hubungan. Bila menyaksikan pertengkaran tersebut, akan memberikan contoh yang sangat kurang baik. Dalam jangka panjang, secara psikologis menjadikannya kesulitan membangun relasi dengan orang lain. Ia tak memahami bagaimana sebaiknya berelasi dengan orang lain. Tak tertutup kemungkinan juga, akan cenderung bersikap egois sehingga dijauhi orang lain. Tak tertutup kemungkinan juga, sulit mendapatkan pasangan hidup saat berusia dewasa kelak.

Menjadikan Sang Anak Memihak Salah Satu Orang Tua, Ayah atau Ibu. Pertengkaran sejatinya memang tak melibatkan anak. Namun, menjadikan sang anak cenderung memihak salah satu orang tua. Sebabnya, dalam benaknya, ia akan memutuskan siapa yang sesungguhnya benar dan siapa yang sesungguhnya salah, ayahnya ataukah ibunya. Ambil contoh, sang anak memihak ibu. Hubungannya dengan ayahnya tentunya akan semakin renggang dan jauh. Ia menganggap ayahnya sebagai pihak yang salah. Begitu pun sebaliknya. Padahal, dalam masa perkembangan, peran kedua orang tua sangat penting dan vital baginya.

Demikian, dampak-dampak negatif bagi anak bila menyaksikan langsung kedua orang tuanya bertengkar. Sekali lagi, hindari hal ini di hadapannya. Ada baiknya juga lekas menyelesaikannya bersama pasangan. Terlebih, bila sering beradu argumen hingga berjam-jam. Sebagai orang tua, kita tentunya tak ingin dampak-dampak kurang baik tersebut terjadi kepadanya. Tak menyuguhkan sajian pertengkaran di hadapannya sesungguhnya sama dengan menyayanginya. “Anda sebaiknya berhati-hati bila bertengkar di hadapan anak”, tutur E.Mark Cummings, seorang psikologi dari Universitas Notre Dame.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
  • http://www.developmentalscience.com/blog/2014/04/30/what-happens-to-children-when-parents-fight
  • https://parenting.firstcry.com/articles/impacts-of-parents-fighting-on-children/
Gambar:
1. https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/07/03/38/silhouette-2480321_960_720.png


Related Posts :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar